Peristiwa Isra Mi’raj bukan sekadar kisah monumental dalam sejarah Islam, melainkan juga sebuah pesan abadi tentang arah hidup manusia, tentang ke mana hati seharusnya menuju, dan tentang bagaimana seharusnya agama dimaknai dalam perjalanan spiritual dan sosial umat. Dalam satu malam, Rasulullah Muhammad SAW melakukan perjalanan agung: dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu menembus lapisan-lapisan langit hingga Sidratul Muntaha, menghadap langsung kepada Allah SWT, Sang Maha Suci, Sang Maha Tinggi. Ini bukan hanya mukjizat, tetapi juga deklarasi ilahiah tentang kedudukan manusia, misi kenabian, dan hakikat penghambaan. Isra Mi’raj terjadi pada fase yang sangat berat dalam kehidupan Rasulullah SAW. Tahun kesedihan (‘Aamul Huzn) telah menguras jiwa dan raga beliau: wafatnya Khadijah RA, pendamping setia dan penguat dakwah, serta Abu Thalib, pelindung politik beliau. Dakwah di Thaif pun berujung penolakan dan luka. Dalam kondisi manusiawi yang paling rapuh itulah, Allah justru mengundang kekasih-Nya untuk “naik” menghadap. Seolah ingin menegaskan satu pelajaran besar: ketika bumi terasa sempit, langit selalu terbuka bagi mereka yang hatinya terikat kepada Allah. Catatan sejarah dan riwayat menyebutkan bahwa sebelum peristiwa Isra Mi’raj, Rasulullah SAW dibersihkan hatinya. Dada beliau dibelah, hatinya dicuci dengan air zamzam, lalu diisi dengan iman dan hikmah. Ini bukan sekadar kisah simbolik, tetapi pesan yang sangat dalam: perjalanan menuju hadirat Allah menuntut kebersihan batin. Menghadap Sang Maha Suci tidak cukup hanya dengan tubuh, apalagi dengan status atau kebanggaan duniawi. Yang dihadapkan adalah hati—dan hati itu harus bebas dari noda, dari pamrih, dari keterikatan berlebihan kepada selain Allah. Dalam hati Rasulullah SAW, tidak ada keinginan lain selain bertemu Allah. Tidak ada ambisi dunia, tidak ada ketertarikan pada gemerlap materi, tidak ada beban kepentingan pribadi. Yang ada hanyalah cinta dan kepasrahan total kepada kehendak Ilahi. Inilah puncak tauhid yang sejati: ketika seluruh orientasi hidup hanya tertuju kepada Allah SWT. Sayangnya, di sinilah kita sering merasa tertampar. Umat hari ini, termasuk kita semua, sering kali justru membalik urutan nilai. Agama tidak lagi selalu menjadi jalan untuk melepaskan diri dari belenggu dunia, tetapi kadang malah dijadikan legitimasi untuk mengejar dunia. Simbol-simbol agama dipakai untuk membungkus ambisi, ayat dan dalil dijadikan hujjah untuk menumpuk materi, bahkan kesalehan pun tak jarang dipertontonkan demi kepentingan citra dan kekuasaan. Kita berbicara tentang zuhud, tetapi hidup dalam kompetisi pamer. Kita mengagungkan kesederhanaan, tetapi jiwa kita penuh hasrat memiliki dan menguasai. Padahal, salah satu pesan paling kuat dari Isra Mi’raj adalah penetapan salat. Salat bukan hanya kewajiban ritual, melainkan “Mi’raj”-nya orang beriman. Salat seharusnya menjadi sarana naiknya ruh, terlepasnya jiwa dari beban dunia, dan lurusnya kembali orientasi hidup kepada Allah. Namun apa yang sering terjadi? Salat kita justru tergesa-gesa, sekadar menggugurkan kewajiban, sementara pikiran tetap sibuk menghitung untung-rugi dunia. Tubuh menghadap kiblat, tetapi hati masih berputar di pasar.
Isra Mi’raj juga mengajarkan bahwa kemuliaan manusia bukan ditentukan oleh seberapa tinggi ia menumpuk harta atau seberapa jauh ia menjelajah dunia, melainkan oleh seberapa dekat ia dengan Allah. Benar bahwa peristiwa ini sering pula dimaknai sebagai isyarat agar umat Islam mencintai ilmu, sains, dan kemajuan. Tidak ada pertentangan antara iman dan kemajuan. Tetapi kemajuan yang tidak dituntun oleh kesucian hati justru bisa berubah menjadi alat perusakan dan penindasan. Hari ini, ketika Isra Mi’raj diperingati setiap 27 Rajab, kita perlu bertanya dengan jujur kepada diri sendiri: apakah peringatan ini hanya menjadi seremoni tahunan, atau benar-benar menjadi momentum perubahan arah hidup? Apakah kita semakin dekat kepada Allah, atau justru semakin lihai membungkus cinta dunia dengan jargon-jargon agama? Isra Mi’raj mengajarkan bahwa untuk “naik”, manusia harus terlebih dahulu “membersihkan”. Membersihkan hati dari keserakahan, dari cinta dunia yang berlebihan, dari riya, dari merasa paling benar, dan dari menjadikan agama sebagai alat pembenaran nafsu. Tanpa itu, kita mungkin rajin beribadah, tetapi tetap berjalan di tempat, tidak pernah benar-benar terangkat secara ruhani. Akhirnya, Isra Mi’raj adalah undangan abadi: undangan untuk menata ulang orientasi hidup. Bahwa tujuan akhir kita bukanlah dunia, melainkan Allah. Bahwa kekayaan, jabatan, dan prestasi hanyalah alat, bukan tujuan. Dan bahwa ridha Allah tidak akan pernah bisa dibeli dengan apa pun, kecuali dengan hati yang tunduk, bersih, dan ikhlas. Semoga peringatan Isra Mi’raj tidak berhenti di langit cerita, tetapi benar-benar turun dan hidup dalam sikap, pilihan, dan cara kita menjalani kehidupan. Karena sejatinya, setiap mukmin dipanggil untuk melakukan “mi’raj”-nya sendiri—bukan dengan Buraq, tetapi dengan salat, keikhlasan, dan pelepasan dari belenggu dunia.
PAPUA TENGAH, CENTRAL MEDIA – Dalam upaya menyiapkan prajurit yang profesional, tangguh, dan siap mengemban tugas operasi pemeliharaan perdamaian dunia, Detasemen Zeni Tempur (Denzipur) 12/OHH melaksanakan kegiatan assessment proyeksi personel Satgas MONUSCO (United Nations Organization Stabilization Mission in the Democratic Republic of the Congo). Kegiatan assessment ini merupakan bagian dari tahapan seleksi yang dilaksanakan secara menyeluruh guna memastikan setiap personel yang diproyeksikan mengikuti penugasan internasional memiliki kemampuan, integritas, serta kesiapan yang sesuai dengan standar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Melalui proses seleksi yang objektif dan transparan, Denzipur 12/OHH berkomitmen menghadirkan prajurit terbaik untuk mendukung misi perdamaian dunia.
Dalam pelaksanaannya, assessment mencakup berbagai aspek penilaian, mulai dari kemampuan fisik, kesehatan jasmani dan rohani, kesiapan mental, pengetahuan umum, keterampilan teknis kecabangan zeni, kemampuan berbahasa Inggris, hingga kelengkapan administrasi. Seluruh tahapan tersebut menjadi indikator penting dalam menentukan kelayakan personel yang akan diusulkan mengikuti Satgas MONUSCO.
Selain menguji kemampuan individu, kegiatan ini juga menjadi sarana evaluasi untuk mengukur kesiapan prajurit dalam menghadapi tantangan penugasan di wilayah operasi yang memiliki karakteristik berbeda dengan penugasan di dalam negeri. Personel dituntut memiliki disiplin tinggi, kemampuan beradaptasi, kerja sama tim yang baik, serta profesionalisme dalam menjalankan setiap tugas yang diberikan.
Komandan Denzipur 12/OHH menegaskan bahwa setiap personel harus mengikuti seluruh rangkaian assessment dengan penuh kesungguhan dan rasa tanggung jawab. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kondisi kesehatan, meningkatkan kemampuan teknis maupun nonteknis, serta terus mengembangkan kompetensi agar mampu bersaing dan memenuhi standar yang ditetapkan PBB. “Setiap prajurit harus mempersiapkan diri secara maksimal, baik dari aspek fisik, mental, maupun kemampuan profesional. Penugasan dalam misi perdamaian dunia merupakan sebuah kehormatan sekaligus amanah negara yang harus dijalankan dengan penuh dedikasi, loyalitas, dan tanggung jawab,” tegasnya.
Indonesia sendiri dikenal sebagai salah satu negara yang secara konsisten berkontribusi dalam operasi pemeliharaan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kontribusi tersebut diwujudkan melalui pengiriman berbagai satuan, termasuk unsur Kompi Zeni (Kizi), yang memiliki peran strategis dalam pembangunan infrastruktur, perbaikan jalan dan jembatan, pembukaan akses mobilitas pasukan, pembangunan fasilitas pendukung, serta berbagai pekerjaan rekayasa teknik lainnya di daerah misi. Keikutsertaan prajurit TNI dalam Satgas MONUSCO tidak hanya menjadi bentuk komitmen Indonesia dalam menjaga perdamaian dan stabilitas dunia, tetapi juga menjadi ajang untuk menunjukkan profesionalisme, kemampuan, dan citra positif TNI di mata masyarakat internasional.
Melalui pelaksanaan assessment ini, Denzipur 12/OHH berharap dapat menghasilkan personel terbaik yang memiliki kompetensi, disiplin, integritas, dan semangat pengabdian tinggi sehingga mampu mengemban tugas dengan baik serta mengharumkan nama TNI dan Republik Indonesia dalam setiap pelaksanaan misi perdamaian di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa. (Red)
PAPUA TENGAH, CENTRAL MEDIA NEWS – Pemerintah Provinsi Papua Tengah secara resmi meluncurkan Program Bangkit Papua Tengah (Bangun Generasi dan Keluarga yang Inklusif dan Tangguh) sebagai salah satu program prioritas daerah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan perlindungan sosial masyarakat. Peluncuran berlangsung di Ballroom Kantor Gubernur Papua Tengah, Nabire, Selasa (21/7/2026).
Program ini diluncurkan langsung oleh Gubernur Papua Tengah, Meki Fritz Nawipa, didampingi Wakil Gubernur Deinas Geley, Sekretaris Daerah dr. Silwanus Sumule, pimpinan OPD, Forkopimda, Majelis Rakyat Papua (MRP), DPR Papua Tengah, serta perwakilan empat pemerintah kabupaten yang menjadi lokasi awal pelaksanaan program. Peluncuran Ditandai Penandatanganan Komitmen Bersama
Peluncuran Program Bangkit Papua Tengah ditandai dengan penandatanganan berita acara antara Pemerintah Provinsi Papua Tengah dengan empat pemerintah kabupaten yang menjadi pilot project, yaitu: Kabupaten Paniai Kabupaten Intan Jaya Kabupaten Dogiyai Kabupaten Puncak Jaya Sebagai simbol dimulainya implementasi program, Gubernur Meki Nawipa juga menyerahkan bantuan kepada empat perwakilan masyarakat dari kabupaten tersebut.
Program Bangkit merupakan inisiatif Pemerintah Provinsi Papua Tengah melalui Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Provinsi Papua Tengah, yang dirancang sebagai gerakan pembangunan terpadu dengan fokus pada peningkatan kesejahteraan keluarga, perlindungan anak, penanganan kemiskinan, serta percepatan penurunan stunting. Kepala Bapperida: Bangkit Menjadi Gerakan Pembangunan Terpadu
Kepala Bapperida Provinsi Papua Tengah, Eliezer Yogi, S.STP., M.Si, menjelaskan bahwa peluncuran Program Bangkit merupakan momentum dimulainya implementasi resmi program yang berorientasi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat Papua Tengah. Menurutnya, Program Bangkit hadir sebagai gerakan pembangunan terpadu yang mengintegrasikan berbagai sektor, khususnya dalam bidang perlindungan sosial dan pembangunan sumber daya manusia. Ia menyampaikan bahwa terdapat beberapa tujuan utama dari pelaksanaan program tersebut, di antaranya: Memperkenalkan Program Bangkit Papua Tengah kepada masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan. Menyampaikan arah kebijakan Pemerintah Provinsi Papua Tengah dalam bidang perlindungan sosial dan pembangunan sumber daya manusia. Membangun komitmen bersama antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, mitra pembangunan, serta masyarakat dalam mendukung keberhasilan program. Menyerahkan dan memanfaatkan data terpadu sebagai dasar penyaluran manfaat program agar tepat sasaran. Eliezer menegaskan bahwa data yang akurat menjadi fondasi utama keberhasilan Program Bangkit. “Kami berharap melalui pelaksanaan launching Program Bangkit Papua Tengah ini akan semakin memperkuat sinergi seluruh pemangku kepentingan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua Tengah melalui perlindungan sosial yang tepat sasaran, terintegrasi, dan berkelanjutan,” ujarnya. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terlaksananya program, termasuk Pemerintah Australia sebagai salah satu mitra pembangunan. Gubernur : Bangkit Hadir Menjawab Tantangan Kemiskinan dan Stunting
Dalam sambutannya, Gubernur Papua Tengah Meki Fritz Nawipa mengatakan Program Bangkit lahir sebagai jawaban atas berbagai tantangan pembangunan yang masih dihadapi Papua Tengah, terutama tingginya angka stunting dan kemiskinan. Menurutnya, berdasarkan data yang tersedia saat ini, angka stunting di Papua Tengah mencapai sekitar 32,5 persen, sementara angka kemiskinan berada di kisaran 28,9 persen. Meski demikian, ia menilai pemerintah masih membutuhkan data yang lebih akurat sehingga seluruh kebijakan benar-benar tepat sasaran. “Dengan Program Bangkit ini saya berharap kita semua membantu menghadirkan data yang benar. Kita harus tahu angka kemiskinan, angka stunting, angka kematian, sehingga pemerintah bisa membuat kebijakan yang tepat.” Data Akurat Menjadi Kunci Pembangunan
Gubernur menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran, tetapi juga oleh kualitas data yang dimiliki pemerintah. Menurutnya, pemerintah harus mengetahui secara pasti kondisi masyarakat, mulai dari tingkat kesejahteraan keluarga, pendapatan masyarakat hingga kebutuhan dasar yang harus dipenuhi. Data tersebut akan menjadi dasar dalam menyusun berbagai program pembangunan, termasuk peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), pengurangan kemiskinan, hingga peningkatan kesejahteraan masyarakat. “Kalau pemerintah ingin berhasil, maka harus tahu angkanya. Dari situ kita bisa mengukur apakah daerah ini maju atau belum.” Program Strategis Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa menegaskan bahwa Program Bangkit telah masuk dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah sehingga keberlanjutannya telah dipersiapkan sejak awal. Ia menyebut Bangkit sebagai Program Strategis Gubernur Papua Tengah, yang akan terus dijalankan selama masa kepemimpinannya bersama Wakil Gubernur. Program tersebut juga merupakan hasil kerja sama antara Pemerintah Provinsi Papua Tengah dengan berbagai mitra pembangunan, termasuk Pemerintah Australia. Dimulai di Empat Kabupaten, Bertambah Menjadi Delapan Tahun Depan
Pada tahap awal, Program Bangkit akan dilaksanakan di empat kabupaten, yaitu: Paniai Dogiyai Intan Jaya Puncak Jaya Keempat daerah tersebut dipilih sebagai lokasi percontohan (pilot project). Gubernur menargetkan pada tahun berikutnya program akan diperluas ke empat kabupaten lainnya sehingga seluruh wilayah Papua Tengah secara bertahap memperoleh manfaat Program Bangkit. Anak Usia 0–4 Tahun Menjadi Prioritas
Salah satu fokus utama Program Bangkit adalah perlindungan bagi anak usia dini. Pemerintah Provinsi Papua Tengah berkomitmen membiayai berbagai kebutuhan pelayanan bagi anak sejak lahir hingga usia empat tahun sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas generasi Papua Tengah sejak dini. Namun demikian, Gubernur menegaskan keberhasilan program tersebut memerlukan dukungan penuh dari pemerintah kabupaten. Ia meminta seluruh bupati menyiapkan dukungan operasional di daerah masing-masing sehingga implementasi program dapat berjalan secara optimal. Bantuan Tunai Meningkat Menjadi Rp350 Ribu per Bulan Dalam kesempatan tersebut, Gubernur juga mengungkapkan bahwa bantuan yang sebelumnya diterima masyarakat sebesar Rp200 ribu per bulan kini ditingkatkan menjadi Rp350 ribu per bulan. Peningkatan tersebut diharapkan mampu membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat penerima manfaat. Komitmen Besar pada Pendidikan Selain Program Bangkit, Pemerintah Provinsi Papua Tengah juga terus memperkuat sektor pendidikan melalui berbagai program beasiswa. Gubernur mengungkapkan bahwa saat ini pemerintah telah membiayai: 550 mahasiswa Papua Tengah melalui program beasiswa pemerintah provinsi. 58.920 siswa SMP dan SMA melalui program pendidikan daerah. Selain itu, melalui Program Indonesia Pintar (PIP), sebanyak 2.444 pelajar di lima kabupaten juga menerima bantuan pendidikan, dengan rincian: Kabupaten Nabire : 1.010 siswa Kabupaten Mimika : 700 siswa Kabupaten Paniai : 448 siswa Kabupaten Puncak Jaya : 171 siswa Kabupaten Dogiyai : 151 siswa Menurut Gubernur, komitmen tersebut menunjukkan bahwa Pemerintah Provinsi Papua Tengah terus berinvestasi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Di akhir sambutannya, Gubernur kembali mengingatkan pentingnya pendataan yang valid. Ia menilai masih terdapat data yang belum akurat sehingga berpotensi menghambat penyaluran berbagai bantuan pemerintah. Karena itu, ia mengajak seluruh masyarakat, pemerintah kabupaten, dan aparat kampung untuk bersama-sama memperbaiki sistem pendataan agar seluruh program benar-benar diterima oleh masyarakat yang berhak. “Kalau datanya benar, maka semua program pemerintah bisa tepat sasaran. Kita punya anggaran, kita punya niat membantu masyarakat, tetapi semua harus didukung dengan data yang valid,” tegasnya. Bangkit Menjadi Tonggak Baru Pembangunan Papua Tengah
Peluncuran Program Bangkit Papua Tengah menjadi langkah awal Pemerintah Provinsi Papua Tengah dalam membangun sistem perlindungan sosial yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan. Melalui kolaborasi antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, mitra pembangunan, serta masyarakat, program ini diharapkan mampu mempercepat penurunan angka kemiskinan dan stunting, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, sekaligus mewujudkan generasi Papua Tengah yang sehat, tangguh, inklusif, dan sejahtera. (Red)
PAPUA TENGAH, CENTRAL MEDIA NEWS – Pemerintah Provinsi Papua Tengah menggelar pesta rakyat berskala besar dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-4 Provinsi Papua Tengah. Mengusung tema JAMBU (Jangan Melupakan Budaya), rangkaian kegiatan yang dipusatkan di Halaman Kantor Gubernur Papua Tengah, kawasan Bandara Lama Nabire, berlangsung meriah dan mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat pada Selasa (21/7/2026). Perayaan tahun ini tidak sekadar menjadi seremoni peringatan hari jadi provinsi, tetapi juga dirancang sebagai momentum mempererat persatuan masyarakat, melestarikan budaya lokal, sekaligus menggerakkan perekonomian rakyat melalui pelibatan ratusan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Sejak pagi, ribuan masyarakat memadati lokasi kegiatan untuk mengikuti berbagai agenda yang telah disiapkan panitia, mulai dari jalan santai, pemeriksaan kesehatan gratis, lomba Tari Yospan, hingga pameran UMKM yang menampilkan beragam produk unggulan khas Papua Tengah. Berbagai hiburan rakyat, permainan interaktif, serta pembagian doorprize dengan hadiah utama empat unit sepeda motor turut menambah semarak suasana.
Gubernur Papua Tengah, Meki Fritz Nawipa, hadir langsung memimpin kegiatan jalan sehat bersama masyarakat. Usai melepas peserta, gubernur meninjau sejumlah stan bazar UMKM, menyapa para pelaku usaha, serta melihat langsung berbagai produk lokal yang dipamerkan, mulai dari kuliner khas, kerajinan tangan, hingga hasil karya masyarakat asli Papua. Kepala Biro Umum Setda Provinsi Papua Tengah sekaligus Ketua Panitia HUT ke-4 Papua Tengah, Vivian Andenita Gobay, S.IP., M.M., mengatakan seluruh rangkaian kegiatan telah dipersiapkan secara intensif selama dua pekan terakhir agar masyarakat dapat menikmati perayaan yang meriah sekaligus memberikan manfaat nyata bagi pelaku ekonomi lokal.
Menurutnya, peringatan HUT ke-4 Papua Tengah menjadi momentum penting untuk memperkuat kebersamaan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan UMKM. “Rangkaian kegiatan diawali dengan nonton bareng final Piala Dunia pada 19 Juli 2026, kemudian dilanjutkan berbagai kegiatan masyarakat dan akan mencapai puncaknya pada Konser Rohani tanggal 22 Juli 2026. Kami berkomitmen mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui keterlibatan ratusan pelaku UMKM,” ujar Vivian. Ia menjelaskan, ratusan pelaku UMKM, khususnya Orang Asli Papua, diberikan ruang untuk mempromosikan berbagai produk unggulan mereka kepada masyarakat luas. Produk yang dipamerkan meliputi makanan dan minuman khas daerah, kerajinan tangan, hasil olahan lokal, hingga berbagai produk kreatif lainnya yang diharapkan mampu meningkatkan daya saing serta pendapatan pelaku usaha.
Selain menghadirkan bazar UMKM, masyarakat juga disuguhkan beragam hiburan menarik. Penampilan musisi-musisi terbaik Papua menjadi salah satu daya tarik utama, disertai berbagai permainan interaktif, hiburan rakyat, hingga kesempatan memenangkan hadiah doorprize. Tema JAMBU (Jangan Melupakan Budaya) menjadi semangat utama dalam penyelenggaraan HUT ke-4 Papua Tengah. Melalui tema tersebut, Pemerintah Provinsi Papua Tengah ingin menegaskan komitmen untuk menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya sebagai identitas daerah di tengah pesatnya pembangunan.
Sejumlah kegiatan bernuansa budaya pun menjadi bagian penting dalam perayaan, di antaranya lomba Tari Yospan yang melibatkan berbagai kelompok seni dari sejumlah daerah. Selain itu, masyarakat juga dapat memanfaatkan layanan pemeriksaan kesehatan gratis serta menyaksikan peluncuran Aplikasi Papua Bangkit sebagai bagian dari upaya pemerintah meningkatkan pelayanan kepada masyarakat melalui transformasi digital. “Acara ini kami kemas secara besar-besaran. Kami menghadirkan musisi-musisi terbaik Papua, menyediakan berbagai doorprize menarik, dan melibatkan ratusan pelaku UMKM. Seluruh kegiatan ini gratis dan terbuka untuk seluruh masyarakat,” kata Vivian.
Ia mengajak seluruh masyarakat Papua Tengah untuk hadir bersama keluarga, kerabat, maupun sahabat guna memeriahkan peringatan hari jadi provinsi yang kini memasuki usia empat tahun. “Mari hadir bersama keluarga, tetangga, dan sahabat. Dukung produk-produk anak daerah, nikmati seluruh rangkaian hiburan, dan rayakan HUT ke-4 Papua Tengah dengan penuh sukacita, persatuan, dan kebersamaan,” ajaknya.
Melalui penyelenggaraan pesta rakyat ini, Pemerintah Provinsi Papua Tengah berharap peringatan HUT ke-4 menjadi lebih dari sekadar perayaan tahunan. Momentum ini diharapkan mampu memperkuat rasa persaudaraan antarmasyarakat, menjaga kelestarian budaya Papua, sekaligus menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi daerah melalui pemberdayaan UMKM sebagai salah satu pilar utama pembangunan Papua Tengah. (Red)