PAPUA TENGAH, CENTRAL MEDIA NEWS – Dalam rangka menyusun Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Nabire tahun 2027, Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi (Bapperida) Kabupaten Nabire mengundang seluruh elemen terkait. Kegiatan yang dikemas dalam bingkai “Konsultasi Publik dalam rangka Penyusunan RKPD Kabupaten Nabire Tahun 2027” tersebut diselenggarakan pada Selasa (24/2/2026) bertempat di Aula Kantor Bapperida Kabupaten Nabire.
Hadir memenuhi undangan Bapperida antara lain Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Nabire, Ibu Nancy Karolin Worabay, bersama tiga Ketua Komisi DPRK Nabire yang diwakili oleh anggota komisi masing-masing, sejumlah Kepala OPD, kepala suku, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh perempuan, pemuda, tokoh kesenian, serta perwakilan Perkumpulan WKRI Kabupaten Nabire. Dalam sesi pertanyaan, usulan, dan masukan, berbagai hal dilontarkan oleh peserta forum. Di antaranya terkait ketepatan sasaran bantuan sosial (bansos), asupan gizi, pemeriksaan ibu hamil, pertumbuhan dan perkembangan anak, penyerapan dana desa, hingga tingginya angka penyakit menular. Arena tersebut menjadi momentum strategis sebagai langkah awal dalam penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Nabire tahun 2027. Kepala Bapperida Kabupaten Nabire, Dr. H. Mukayat, S.Pd., M.Si., M.Sc., M.Pd., menjelaskan bahwa agar RKPD dapat disahkan menjadi Peraturan Daerah (Perda), diperlukan penggodokan materi secara matang melalui sejumlah tahapan. Konsultasi publik ini merupakan langkah awal menuju tahapan selanjutnya.
Setelah mendengar dan mempertimbangkan: pertama, penyampaian paparan rancangan awal RKPD Kabupaten Nabire tahun 2027; kedua, tanggapan dan saran dari forum konsultasi publik rancangan awal RKPD Kabupaten Nabire tahun 2027 yang telah dirangkum menjadi hasil kesepakatan, maka pada hari Selasa, 24 Februari 2026, pukul 12.00 WIB, bertempat di Aula Bapperida Kabupaten Nabire, forum menyepakati beberapa hal. Kesepakatan tersebut meliputi: pertama, tema pembangunan Kabupaten Nabire tahun 2027 sebagaimana tercantum dalam lampiran dua berita acara; kedua, isu strategis pembangunan Kabupaten Nabire tahun 2027 sebagaimana tercantum dalam lampiran tiga berita acara; ketiga, prioritas pembangunan Kabupaten Nabire tahun 2027 sebagaimana tercantum dalam lampiran empat berita acara; keempat, hasil kesepakatan ini akan digunakan sebagai bahan penyempurnaan rancangan awal RKPD yang selanjutnya akan dibahas dalam Pramusrenbang RKPD Kabupaten Nabire tahun 2027. Kesepakatan tersebut kemudian ditandatangani oleh perwakilan peserta, yakni Sekda Kabupaten Nabire Yulius Pasang, S.Pd., M.Pd., Ketua DPRK Kabupaten Nabire Ibu Nancy Karolin Worabay, perwakilan kepala suku Mee, perwakilan kepala suku Yaur, perwakilan tokoh kesenian, perwakilan tokoh pemuda, perwakilan dari SKPN, perwakilan dari WKRI, Ibu Nur Indah Fitriani, serta Kepala Bapperida Kabupaten Nabire Dr. H. Mukayat, S.Pd., M.Si., M.Sc., M.Pd.
Paparkan Proses RKPD dan Capaian Makroekonomi, Dorong Perencanaan Partisipatif di Nabire Badan Perencanaan Pembangunan Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Nabire menegaskan komitmennya menghadirkan perencanaan pembangunan yang partisipatif dan berbasis data dalam penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). Dalam kegiatan yang digelar di Aula Bappeda, Kepala Bapperida Kabupaten Nabire, Dr.H.Mukayat, S.Pd., M.Si., M.Sc., M.Pd., menyampaikan bahwa pihaknya melayani 48 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang terdiri dari 33 SKPD dan 15 distrik. Meski demikian, optimalisasi sumber daya manusia dinilai mampu memastikan seluruh proses perencanaan berjalan baik. “Kita ingin perencanaan tidak lagi bersifat top down. RKPD harus partisipatif, membutuhkan banyak ide, saran, dan masukan dari semua pihak,” ujarnya di hadapan peserta yang terdiri dari unsur DPRK, akademisi, OPD, serta perwakilan masyarakat.
Proses Penyusunan RKPD Bertahap dan Panjang Dijelaskan, RKPD merupakan dokumen tahunan yang diturunkan dari dokumen perencanaan jangka panjang dan menengah, yakni RPJPD (20 tahun) dan RPJMD (5 tahun). Penyusunannya tidak instan dan membutuhkan waktu hampir dua tahun. Tahapan penyusunan dimulai dari pembentukan tim, penyusunan rancangan awal, rancangan, musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang), rancangan akhir, hingga proses review oleh Inspektorat serta konsultasi ke pemerintah provinsi sebelum ditetapkan. “RKPD ini gabungan rencana kerja 48 OPD. Karena itu dokumennya tebal, bisa lebih dari 600 halaman, lengkap dengan seluruh program, kegiatan, dan subkegiatan,” jelasnya. Ia menambahkan, dalam waktu dekat Bappeda akan menggelar musrenbang distrik dengan melibatkan seluruh kepala distrik, 72 kampung, dan 9 kelurahan guna menjaring usulan langsung dari masyarakat. Selanjutnya akan dilaksanakan forum perangkat daerah dan musrenbang kabupaten sebelum penetapan akhir pada 31 Maret. Payung Hukum Nasional Kepala Bappeda juga menegaskan bahwa sistematika RKPD seragam secara nasional, merujuk pada regulasi seperti: Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 86 Tahun 2017 “Dari Sabang sampai Merauke, sistematika RKPD sama. Ini memastikan standar perencanaan terjaga secara nasional,” ujarnya.
Dorong Kemandirian Daerah dan Penguatan PAD Dalam kesempatan itu, Bappeda juga menyoroti pentingnya kemandirian fiskal daerah. Dengan kecenderungan pengetatan transfer ke daerah, pemerintah kabupaten didorong untuk memperkuat Pendapatan Asli Daerah (PAD). “Kalau dana transfer makin berkurang, maka kita harus menguatkan PAD. Daerah harus mandiri, mampu menghasilkan pendapatan sendiri,” tegasnya. Ia berharap perangkat daerah yang berada dalam rumpun PAD dapat menjadi motor penggerak peningkatan penerimaan daerah.
Indikator Makro Ekonomi Meningkat Bappeda juga memaparkan sejumlah indikator makroekonomi Kabupaten Nabire berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan tren positif. Beberapa capaian tersebut antara lain: Pertumbuhan ekonomi meningkat dari 3,75 persen menjadi 3,81 persen. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) naik dari 72,28 menjadi 72,89. Usia Harapan Hidup meningkat dari 70,06 tahun menjadi 70,50 tahun. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun dari 4,10 persen menjadi 3,16 persen. Angka kemiskinan menurun dari 24 persen menjadi 22,65 persen. Rasio Gini turun dari 0,346 menjadi 0,313, menandakan kesenjangan ekonomi semakin mengecil. Sementara itu, Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK) Nabire masih tergolong tinggi dibanding sejumlah daerah lain di Papua, yang berdampak pada harga barang dan biaya pembangunan. Di sektor kesehatan, prevalensi stunting disebut sebagai yang terbaik di wilayah Papua Tengah berdasarkan data terbaru, dan pemerintah daerah menargetkan mempertahankan capaian tersebut dalam evaluasi tingkat provinsi. Menutup kegiatan, Bappeda mengajak seluruh peserta aktif memberikan masukan agar RKPD tidak hanya menjadi dokumen tebal, tetapi benar-benar terimplementasi dan berdampak nyata bagi masyarakat. “Kita ingin RKPD tidak sekadar rapi di atas kertas, tetapi berwarna dalam implementasi. Dengan partisipasi semua pihak, kita optimistis pembangunan Nabire semakin baik,” pungkasnya.
Prioritaskan Peningkatan Kualitas SDM Sementara itu, Bupati Nabire Mesak Magai dalam sambutan tertulis yang dibacakan Plt.Sekda Yulius Pasang yang juga membuka kegiatan secara resmi, menyampaikan bahwa penyusunan RKPD merupakan amanat dari Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional serta Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. Kedua regulasi tersebut mengharuskan pemerintah daerah menyusun perencanaan pembangunan secara partisipatif, transparan, dan akuntabel. Adapun tema pembangunan Kabupaten Nabire Tahun 2027 adalah “Peningkatan Sumber Daya Manusia, Pembangunan Infrastruktur Berkelanjutan, dan Penguatan Ekonomi Lokal untuk Kesejahteraan Masyarakat.” Tema tersebut, menurut Bupati, mencerminkan komitmen pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui penguatan sektor pendidikan dan kesehatan, percepatan penurunan stunting, peningkatan kompetensi tenaga kerja, serta pemberdayaan perempuan dan generasi muda.
Selain itu, pemerintah daerah juga menitikberatkan pada pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan dengan memperhatikan pemerataan akses pelayanan dasar, peningkatan konektivitas antarwilayah, penyediaan air bersih dan sanitasi, penanganan rumah tidak layak huni, serta pembangunan infrastruktur penunjang perekonomian masyarakat. Melalui forum konsultasi publik ini, Pemerintah Kabupaten Nabire berharap masukan dari seluruh pemangku kepentingan dapat menyempurnakan dokumen perencanaan RKPD 2027 sehingga selaras dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat.
Kegiatan tersebut dihadiri unsur pimpinan dan anggota DPRD, kepala OPD, pejabat eselon, serta berbagai pemangku kepentingan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Nabire. (Red)
PAPUA TENGAH, CENTRAL MEDIA – Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah melalui Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) menggelar On the Job Training (OJT) Program Kusta, Filariasis, Hepatitis, dan ISPA/Pneumonia di Kabupaten Deiyai pada Rabu (5/8/2026).
Pelatihan berbasis tempat kerja yang melibatkan pengelola program dari Dinas Kesehatan Kabupaten Deiyai serta seluruh Puskesmas setempat ini bertujuan untuk memperkuat kompetensi tenaga kesehatan dalam surveilans, penemuan kasus secara dini, tata laksana pasien, hingga perbaikan sistem pencatatan dan pelaporan pelayanan dasar.
Kegiatan teknis ini diselenggarakan sebagai langkah nyata mewujudkan visi dan misi Gubernur Papua Tengah dalam menghadirkan masyarakat yang sehat, mandiri, dan sejahtera melalui penguatan mutu sumber daya manusia kesehatan hingga ke tingkat distrik dan kampung.
Kepala Seksi P2PM Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah, Isak Waine, S.KM., M.Kes., menegaskan pentingnya pembinaan berkelanjutan bagi garda terdepan fasilitas kesehatan. “Melalui OJT ini, kami berkomitmen meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan agar mampu memberikan pelayanan yang profesional dan sesuai standar, utamanya dalam memperkuat deteksi dini serta menghapus stigma penyakit kusta di tengah masyarakat,” ujar Isak Waine.
Melalui sinergi yang makin kokoh antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, dan seluruh Puskesmas, kegiatan ini diharapkan dapat mempercepat upaya pengendalian penyakit menular dan berdampak langsung pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat di Kabupaten Deiyai secara berkelanjutan. (Red)
PAPUA TENGAH, CENTRAL MEDIA NEWS – Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Papua Tengah bersiap menggelar musyawarah daerah guna memilih ketua dan membentuk kepengurusan definitif sebelum tenggat waktu Agustus 2026 yang ditetapkan PSSI Pusat. Langkah ini diambil usai jajaran pengurus Asprov PSSI Papua Tengah menghadiri Kongres Biasa PSSI di Jakarta yang dibuka langsung oleh Ketua Umum PSSI Erick Thohir, Senin (3/8/2026).
Musda tersebut rencananya akan dihadiri langsung oleh PSSI Pusat di Nabire serta mengundang seluruh pengurus Asosiasi Kabupaten (Askab) dari delapan kabupaten se-Papua Tengah demi memastikan legitimasi tata kelola organisasi di daerah.
Ketua Harian Asprov PSSI Papua Tengah, yang juga merupakan Wakil Gubernur Papua Tengah, Deinas Geley, menegaskan bahwa konsolidasi ini krusial mengingat status kepengurusan daerah masih dipegang oleh pelaksana tugas (Plt) sejak 2022. Selain penataan struktur organisasi, Asprov Papua Tengah juga memfokuskan agenda pada pembinaan usia dini melalui rencana pembentukan Sekolah Sepak Bola (SSB) terstruktur serta persiapan kompetisi Liga 4 zona daerah.
“Papua adalah gudangnya pemain sepak bola, namun selama ini kita belum memiliki SSB yang terstruktur sesuai jenjang usia. Inilah mimpi besar kita: ke depan di Papua Tengah pun berdiri SSB khusus yang membina bakat sejak dini,” ujar Deinas Geley.
Restrukturisasi di tingkat daerah ini sejalan dengan kebijakan PSSI Pusat yang menjadwalkan pemilihan ketua Asprov secara serentak pada Oktober hingga November 2026, sebelum berlanjut ke Kongres Pemilihan Pengurus PSSI periode 2027–2031 pada Juli 2027. Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menekankan pentingnya transparansi dalam proses transisi kepemimpinan daerah tersebut untuk menyelaraskan program kerja nasional.
“Sesuai dengan statuta, kami sudah menyepakati bahwa pemilihan Ketua Asprov PSSI akan dilakukan secara terbuka,” tegas Erick usai memimpin kongres. (Red)
PAPUA TENGAH, CENTRAL MEDIA NEWS – Dalam upaya menyiapkan prajurit yang profesional, tangguh, dan siap mengemban tugas operasi pemeliharaan perdamaian dunia, Detasemen Zeni Tempur (Denzipur) 12/OHH melaksanakan kegiatan assessment proyeksi personel Satgas MONUSCO (United Nations Organization Stabilization Mission in the Democratic Republic of the Congo). Kegiatan assessment ini merupakan bagian dari tahapan seleksi yang dilaksanakan secara menyeluruh guna memastikan setiap personel yang diproyeksikan mengikuti penugasan internasional memiliki kemampuan, integritas, serta kesiapan yang sesuai dengan standar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Melalui proses seleksi yang objektif dan transparan, Denzipur 12/OHH berkomitmen menghadirkan prajurit terbaik untuk mendukung misi perdamaian dunia.
Dalam pelaksanaannya, assessment mencakup berbagai aspek penilaian, mulai dari kemampuan fisik, kesehatan jasmani dan rohani, kesiapan mental, pengetahuan umum, keterampilan teknis kecabangan zeni, kemampuan berbahasa Inggris, hingga kelengkapan administrasi. Seluruh tahapan tersebut menjadi indikator penting dalam menentukan kelayakan personel yang akan diusulkan mengikuti Satgas MONUSCO.
Selain menguji kemampuan individu, kegiatan ini juga menjadi sarana evaluasi untuk mengukur kesiapan prajurit dalam menghadapi tantangan penugasan di wilayah operasi yang memiliki karakteristik berbeda dengan penugasan di dalam negeri. Personel dituntut memiliki disiplin tinggi, kemampuan beradaptasi, kerja sama tim yang baik, serta profesionalisme dalam menjalankan setiap tugas yang diberikan.
Komandan Denzipur 12/OHH menegaskan bahwa setiap personel harus mengikuti seluruh rangkaian assessment dengan penuh kesungguhan dan rasa tanggung jawab. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kondisi kesehatan, meningkatkan kemampuan teknis maupun nonteknis, serta terus mengembangkan kompetensi agar mampu bersaing dan memenuhi standar yang ditetapkan PBB. “Setiap prajurit harus mempersiapkan diri secara maksimal, baik dari aspek fisik, mental, maupun kemampuan profesional. Penugasan dalam misi perdamaian dunia merupakan sebuah kehormatan sekaligus amanah negara yang harus dijalankan dengan penuh dedikasi, loyalitas, dan tanggung jawab,” tegasnya.
Indonesia sendiri dikenal sebagai salah satu negara yang secara konsisten berkontribusi dalam operasi pemeliharaan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kontribusi tersebut diwujudkan melalui pengiriman berbagai satuan, termasuk unsur Kompi Zeni (Kizi), yang memiliki peran strategis dalam pembangunan infrastruktur, perbaikan jalan dan jembatan, pembukaan akses mobilitas pasukan, pembangunan fasilitas pendukung, serta berbagai pekerjaan rekayasa teknik lainnya di daerah misi. Keikutsertaan prajurit TNI dalam Satgas MONUSCO tidak hanya menjadi bentuk komitmen Indonesia dalam menjaga perdamaian dan stabilitas dunia, tetapi juga menjadi ajang untuk menunjukkan profesionalisme, kemampuan, dan citra positif TNI di mata masyarakat internasional.
Melalui pelaksanaan assessment ini, Denzipur 12/OHH berharap dapat menghasilkan personel terbaik yang memiliki kompetensi, disiplin, integritas, dan semangat pengabdian tinggi sehingga mampu mengemban tugas dengan baik serta mengharumkan nama TNI dan Republik Indonesia dalam setiap pelaksanaan misi perdamaian di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa. (Red)