Connect with us

Berita Daerah

Polres Nabire Catat 186 Kasus 3C, Kapolres Sebut Kelalaian Warga Jadi Penyebab Utama

Published

on

Nabire, Papua Tengah-enagoNews – 1

86 Kasus 3C Terjadi di Nabire Selama Enam Bulan, Polisi Ungkap Kelalaian Warga Jadi Pemicu Utama
Nabire – Kepolisian Resor (Polres) Nabire mencatat angka tindak pidana 3C (pencurian dengan pemberatan/curat, pencurian dengan kekerasan/curas, dan pencurian kendaraan bermotor/curanmor) masih cukup tinggi sepanjang semester pertama tahun 2026. Dalam periode Januari hingga Juni 2026, sedikitnya 186 kasus 3C terjadi di wilayah Kabupaten Nabire.


Dari jumlah tersebut, sebanyak 83 kasus telah naik ke tahap penyidikan, sementara sisanya masih dalam proses penyelidikan oleh aparat kepolisian.
Kapolres Nabire, AKBP Samuel Tatiratu, mengatakan pihaknya terus berupaya melakukan pengungkapan kasus secara maksimal dengan dukungan Tim Khusus dari Polda Papua Tengah. Menurutnya, seluruh laporan yang masuk menjadi prioritas untuk ditindaklanjuti dan diselesaikan.
“Selama periode Januari sampai Juni 2026 terdapat 186 kasus 3C. Dari jumlah itu, 83 kasus sudah masuk tahap penyidikan, sedangkan sisanya masih dalam proses penyelidikan,” ujar Kapolres saat konferensi pers di Mapolres Nabire, Rabu (15/7/2026).
Kelalaian Warga Masih Jadi Faktor Dominan
Dalam pemaparannya, Kapolres mengungkapkan fakta yang cukup mengejutkan. Berdasarkan hasil evaluasi kepolisian, sebagian besar kasus kejahatan yang terjadi justru dipicu oleh kelalaian masyarakat sendiri.
Salah satu contoh yang paling sering ditemukan adalah kasus pencurian kendaraan bermotor. Banyak korban diketahui meninggalkan sepeda motor dalam keadaan tidak aman, bahkan masih terdapat kunci yang tergantung pada kendaraan saat diparkir.
Menurut Samuel, kondisi tersebut memberikan peluang bagi pelaku kejahatan untuk melakukan aksinya dengan mudah.
Selain curanmor, kasus pencurian dengan kekerasan juga masih terjadi karena sebagian masyarakat beraktivitas pada waktu-waktu yang tergolong rawan tindak kriminal.
Polisi Petakan Jam Rawan Kejahatan
Polres Nabire juga telah melakukan pemetaan terhadap waktu-waktu yang paling sering menjadi sasaran pelaku kejahatan.
Berdasarkan data yang dimiliki kepolisian, aksi kriminal banyak terjadi pada pagi hari antara pukul 06.00 hingga 10.00 WIT.
Sementara pada sore hari, angka kejahatan cenderung meningkat saat masyarakat mulai pulang dari aktivitas kerja, yakni sekitar pukul 15.00 hingga 18.00 WIT.


Adapun pada malam hari, kasus 3C cukup sering terjadi pada rentang waktu 20.00 hingga 23.00 WIT, sedangkan pada dini hari tercatat banyak terjadi antara pukul 02.00 hingga 04.00 WIT.
Kapolres menilai informasi tersebut penting diketahui masyarakat agar dapat meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di luar rumah.
Pelaku Berpindah ke Wilayah Pinggiran
Lebih lanjut, Samuel Tatiratu menjelaskan bahwa para pelaku kejahatan saat ini semakin adaptif dalam mencari celah melakukan aksinya.
Ketika aparat kepolisian memperketat pengawasan dan patroli di pusat kota, para pelaku cenderung mengalihkan aktivitas kriminal ke wilayah pinggiran atau daerah yang dianggap kurang mendapat pengawasan.
“Kami memetakan bahwa ketika pengungkapan aktif dilakukan di dalam kota, para pelaku berpindah ke wilayah luar kota. Seperti kejadian curas di Samabusa maupun sebelumnya ke arah SP Mouba,” jelasnya.
Menurutnya, pola tersebut menunjukkan bahwa pelaku kejahatan terus berupaya mencari lokasi yang dianggap aman untuk menjalankan aksinya.
Masyarakat Diminta Lebih Waspada
Menghadapi situasi tersebut, Kapolres mengajak seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati dan tidak memberikan kesempatan kepada pelaku kejahatan.
Ia menegaskan bahwa perkembangan teknologi dan perubahan zaman turut memengaruhi pola kejahatan, sehingga masyarakat harus semakin sadar akan pentingnya menjaga keamanan diri dan barang berharga.
Polres Nabire memastikan akan terus meningkatkan patroli, pengawasan, serta pengungkapan kasus guna menekan angka kriminalitas di wilayah Kabupaten Nabire. Namun demikian, dukungan dan kewaspadaan masyarakat dinilai tetap menjadi faktor penting dalam mencegah terjadinya tindak pidana 3C. (Red)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Daerah

DinKes Papua Tengah Gelar OJT di Deiyai, Isak Waine : Layanan Harus Sesuai Standar

Published

on

PAPUA TENGAH, CENTRAL MEDIA – Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah melalui Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) menggelar On the Job Training (OJT) Program Kusta, Filariasis, Hepatitis, dan ISPA/Pneumonia di Kabupaten Deiyai pada Rabu (5/8/2026).

Pelatihan berbasis tempat kerja yang melibatkan pengelola program dari Dinas Kesehatan Kabupaten Deiyai serta seluruh Puskesmas setempat ini bertujuan untuk memperkuat kompetensi tenaga kesehatan dalam surveilans, penemuan kasus secara dini, tata laksana pasien, hingga perbaikan sistem pencatatan dan pelaporan pelayanan dasar.

Kegiatan teknis ini diselenggarakan sebagai langkah nyata mewujudkan visi dan misi Gubernur Papua Tengah dalam menghadirkan masyarakat yang sehat, mandiri, dan sejahtera melalui penguatan mutu sumber daya manusia kesehatan hingga ke tingkat distrik dan kampung.

Kepala Seksi P2PM Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah, Isak Waine, S.KM., M.Kes., menegaskan pentingnya pembinaan berkelanjutan bagi garda terdepan fasilitas kesehatan. “Melalui OJT ini, kami berkomitmen meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan agar mampu memberikan pelayanan yang profesional dan sesuai standar, utamanya dalam memperkuat deteksi dini serta menghapus stigma penyakit kusta di tengah masyarakat,” ujar Isak Waine.

Melalui sinergi yang makin kokoh antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, dan seluruh Puskesmas, kegiatan ini diharapkan dapat mempercepat upaya pengendalian penyakit menular dan berdampak langsung pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat di Kabupaten Deiyai secara berkelanjutan. (Red)

Continue Reading

Berita Daerah

Menuju Kepengurusan Definitif, Asprov PSSI Papua Tengah Siap Gelar Musda di Nabire

Published

on

PAPUA TENGAH, CENTRAL MEDIA – Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Papua Tengah bersiap menggelar musyawarah daerah guna memilih ketua dan membentuk kepengurusan definitif sebelum tenggat waktu Agustus 2026 yang ditetapkan PSSI Pusat. Langkah ini diambil usai jajaran pengurus Asprov PSSI Papua Tengah menghadiri Kongres Biasa PSSI di Jakarta yang dibuka langsung oleh Ketua Umum PSSI Erick Thohir, Senin (3/8/2026).

Musda tersebut rencananya akan dihadiri langsung oleh PSSI Pusat di Nabire serta mengundang seluruh pengurus Asosiasi Kabupaten (Askab) dari delapan kabupaten se-Papua Tengah demi memastikan legitimasi tata kelola organisasi di daerah.

Ketua Harian Asprov PSSI Papua Tengah, yang juga merupakan Wakil Gubernur Papua Tengah, Deinas Geley, menegaskan bahwa konsolidasi ini krusial mengingat status kepengurusan daerah masih dipegang oleh pelaksana tugas (Plt) sejak 2022. Selain penataan struktur organisasi, Asprov Papua Tengah juga memfokuskan agenda pada pembinaan usia dini melalui rencana pembentukan Sekolah Sepak Bola (SSB) terstruktur serta persiapan kompetisi Liga 4 zona daerah.

“Papua adalah gudangnya pemain sepak bola, namun selama ini kita belum memiliki SSB yang terstruktur sesuai jenjang usia. Inilah mimpi besar kita: ke depan di Papua Tengah pun berdiri SSB khusus yang membina bakat sejak dini,” ujar Deinas Geley.

Restrukturisasi di tingkat daerah ini sejalan dengan kebijakan PSSI Pusat yang menjadwalkan pemilihan ketua Asprov secara serentak pada Oktober hingga November 2026, sebelum berlanjut ke Kongres Pemilihan Pengurus PSSI periode 2027–2031 pada Juli 2027. Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menekankan pentingnya transparansi dalam proses transisi kepemimpinan daerah tersebut untuk menyelaraskan program kerja nasional.

“Sesuai dengan statuta, kami sudah menyepakati bahwa pemilihan Ketua Asprov PSSI akan dilakukan secara terbuka,” tegas Erick usai memimpin kongres. (Red)

Advertisement
Continue Reading

Berita Daerah

DENZIPUR 12/OHH Laksanakan Assessment Proyeksi Personel Satgas MONUSCO, Siapkan Prajurit Profesional untuk Misi Perdamaian PBB

Published

on


PAPUA TENGAH, CENTRAL MEDIA – Dalam upaya menyiapkan prajurit yang profesional, tangguh, dan siap mengemban tugas operasi pemeliharaan perdamaian dunia, Detasemen Zeni Tempur (Denzipur) 12/OHH melaksanakan kegiatan assessment proyeksi personel Satgas MONUSCO (United Nations Organization Stabilization Mission in the Democratic Republic of the Congo).
Kegiatan assessment ini merupakan bagian dari tahapan seleksi yang dilaksanakan secara menyeluruh guna memastikan setiap personel yang diproyeksikan mengikuti penugasan internasional memiliki kemampuan, integritas, serta kesiapan yang sesuai dengan standar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Melalui proses seleksi yang objektif dan transparan, Denzipur 12/OHH berkomitmen menghadirkan prajurit terbaik untuk mendukung misi perdamaian dunia.


Dalam pelaksanaannya, assessment mencakup berbagai aspek penilaian, mulai dari kemampuan fisik, kesehatan jasmani dan rohani, kesiapan mental, pengetahuan umum, keterampilan teknis kecabangan zeni, kemampuan berbahasa Inggris, hingga kelengkapan administrasi. Seluruh tahapan tersebut menjadi indikator penting dalam menentukan kelayakan personel yang akan diusulkan mengikuti Satgas MONUSCO.


Selain menguji kemampuan individu, kegiatan ini juga menjadi sarana evaluasi untuk mengukur kesiapan prajurit dalam menghadapi tantangan penugasan di wilayah operasi yang memiliki karakteristik berbeda dengan penugasan di dalam negeri. Personel dituntut memiliki disiplin tinggi, kemampuan beradaptasi, kerja sama tim yang baik, serta profesionalisme dalam menjalankan setiap tugas yang diberikan.


Komandan Denzipur 12/OHH menegaskan bahwa setiap personel harus mengikuti seluruh rangkaian assessment dengan penuh kesungguhan dan rasa tanggung jawab. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kondisi kesehatan, meningkatkan kemampuan teknis maupun nonteknis, serta terus mengembangkan kompetensi agar mampu bersaing dan memenuhi standar yang ditetapkan PBB.
“Setiap prajurit harus mempersiapkan diri secara maksimal, baik dari aspek fisik, mental, maupun kemampuan profesional. Penugasan dalam misi perdamaian dunia merupakan sebuah kehormatan sekaligus amanah negara yang harus dijalankan dengan penuh dedikasi, loyalitas, dan tanggung jawab,” tegasnya.


Indonesia sendiri dikenal sebagai salah satu negara yang secara konsisten berkontribusi dalam operasi pemeliharaan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kontribusi tersebut diwujudkan melalui pengiriman berbagai satuan, termasuk unsur Kompi Zeni (Kizi), yang memiliki peran strategis dalam pembangunan infrastruktur, perbaikan jalan dan jembatan, pembukaan akses mobilitas pasukan, pembangunan fasilitas pendukung, serta berbagai pekerjaan rekayasa teknik lainnya di daerah misi.
Keikutsertaan prajurit TNI dalam Satgas MONUSCO tidak hanya menjadi bentuk komitmen Indonesia dalam menjaga perdamaian dan stabilitas dunia, tetapi juga menjadi ajang untuk menunjukkan profesionalisme, kemampuan, dan citra positif TNI di mata masyarakat internasional.


Melalui pelaksanaan assessment ini, Denzipur 12/OHH berharap dapat menghasilkan personel terbaik yang memiliki kompetensi, disiplin, integritas, dan semangat pengabdian tinggi sehingga mampu mengemban tugas dengan baik serta mengharumkan nama TNI dan Republik Indonesia dalam setiap pelaksanaan misi perdamaian di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa. (Red)

Continue Reading

Trending