Berita Daerah
Hampir 100 Persen Guru SMPN 2 Nabire Berstatus ASN
Published
10 bulan agoon
By
Redaksi

PAPUA TENGAH, CENTRAL MEDIS NEWS – Komposisi tenaga pendidik di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 2 Nabire didominasi oleh Aparatur Sipil Negara (ASN). Dari total 40 guru yang mengajar, sebanyak 38 orang atau sekitar 95 persen berstatus ASN.
Kepala SMPN 2 Nabire, Oping Ardino Tandaju, mengatakan dari keseluruhan guru tersebut, 36 orang telah mengantongi sertifikat pendidik. Sementara empat guru lainnya masih dalam proses seleksi sertifikasi yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia untuk formasi tahun 2026.
“Jumlah siswa kami saat ini 536 orang, didukung 40 guru. Dari jumlah itu, 38 guru sudah ASN, 36 di antaranya tersertifikasi, dan empat lainnya sedang menjalani proses seleksi sertifikasi,” ujar Oping kepada enagonews, via WhatsApp Kamis (8/1/2026).
Ia mengakui, ketersediaan tenaga pengajar di SMPN 2 Nabire dapat dikatakan berlebih atau mengalami overload, khususnya pada beberapa mata pelajaran tertentu. Sebagai contoh, mata pelajaran Matematika. Guru Mapel Matematika berjumlah 7 orang sedangkan yang dibutuhkan 4 orang, begitu pun guru Mapel Bahasa Inggris mengalami kelebihan tenaga pengajar.
“Kondisi kelebihan guru ini sebenarnya sudah pernah kami sampaikan kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire. Solusi yang ditawarkan adalah pemerataan dan efisiensi tenaga pendidik, namun sampai saat ini belum berjalan,” jelasnya.

Menurut Oping, di sejumlah wilayah pinggiran Kabupaten Nabire masih banyak sekolah yang kekurangan guru, seperti di KM 100, Napan, dan Yaur. Ia menilai pemerataan tenaga pendidik sangat penting untuk meningkatkan mutu pendidikan secara merata di seluruh wilayah.
Namun demikian, ia menyebut faktor keamanan dan kenyamanan tempat kerja menjadi salah satu kendala utama belum optimalnya pemerataan guru.
“Indikator rasa aman dan nyaman di tempat tugas menjadi pemicu utama keengganan para guru untuk ditempatkan di wilayah tertentu,” ungkapnya.
Di sisi lain, SMPN 2 Nabire terus melakukan pembenahan kualitas pendidikan. Sekolah yang konsisten menerapkan Kurikulum Merdeka dengan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) ini berupaya meningkatkan mutu pembelajaran, kompetensi guru, serta ketersediaan sarana dan prasarana pendukung. Meski demikian, Oping mengakui masih terdapat beberapa ruang kelas yang masuk dalam daftar prioritas renovasi dan membutuhkan dukungan serius dari pemerintah.
Dalam menjawab tantangan zaman, SMPN 2 Nabire juga telah menerapkan pembelajaran berbasis e-learning. Akses jaringan internet telah menjangkau ruang-ruang kelas, didukung dengan berbagai bantuan peralatan dari pemerintah pusat maupun daerah, seperti papan tulis digital.
“Untuk pembelajaran berbasis digital, sekolah kami sudah dilengkapi dengan komputer yang memadai, sehingga pelaksanaan ANBK, Tes Kemampuan Akademik (TKA), dan pembelajaran digital lainnya dapat berjalan dengan baik,” katanya.

Terkait penguatan literasi digital, SMPN 2 Nabire juga telah menyiapkan dua guru yang mendapat mandat negara untuk mengajar mata pelajaran Coding dan Artificial Intelligence (AI), yakni Farida dan Ridho.
“Bu Farida dan Pak Ridho ditugaskan secara resmi untuk mengajar coding dan AI, dan keduanya wajib memiliki sertifikat sesuai ketentuan,” jelas Oping.
Pembelajaran Coding dan AI di sekolah, lanjutnya, mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 13 Tahun 2025. Dalam regulasi tersebut, Coding dan AI ditetapkan sebagai bagian dari kurikulum dan mulai diterapkan pada Tahun Ajaran 2025/2026.
Adapun mata pelajaran tersebut bersifat pilihan atau opsional bagi sekolah yang telah siap, dan tidak diwajibkan untuk seluruh satuan pendidikan. Sasaran penerapannya mencakup jenjang Sekolah Dasar kelas atas (kelas V), serta SMP, SMA, dan SMK sebagai mata pelajaran pilihan. (Mus)









































