Berita Deiyai

Tren Baru Terorisme Bidik Pemuda: Dark Web Jadi Jalur Perekrutan dan Paparan Radikalisme

Published

on

Nabire, Papua Tengah – enagoNews — Pola aksi terorisme di Indonesia kian berkembang dan menjadikan anak-anak serta remaja sebagai sasaran utama. Mereka yang sedang mencari jati diri dan rentan secara psikologis kini menjadi target perekrutan oleh jaringan ekstrem melalui dunia digital.

Data menyebutkan lebih dari 110 anak di 26 provinsi tercatat pernah terlibat dalam proses perekrutan kelompok teror melalui media sosial, game online, hingga platform percakapan tertutup. Meski begitu, seluruh penanganan terhadap anak-anak tersebut dilakukan berdasarkan Undang-Undang Perlindungan Anak dan UU Sistem Peradilan Pidana Anak.


Hal ini disampaikan itu Rizky Hari F.P. , S.H. Tim Preventif Densus 88 AT Mabes Polri wilayah Papua, pasca pemaparan materinya pada acara Pembumian Nilai-nilai Pancasila pada Generasi Muda Provinsi Papua Tengah yang diselenggarakan oleh Kesbangpol Provinsi Papua Tengah, Sabtu (22/11/2025) di Hotel JDF Nabire.

Diterangkan Rizky, selain media sosial, ancaman baru muncul dari dark web, yaitu bagian tersembunyi dari internet yang tidak dapat diakses melalui mesin pencari biasa dan membutuhkan perangkat khusus. Di ruang digital tanpa pengawasan itu, banyak beredar konten kekerasan ekstrem dan propaganda radikal yang dapat membentuk cara pikir anak muda untuk melakukan tindakan berbahaya di dunia nyata.

“Tanpa pendampingan, mereka yang masuk ke dark web bukan hanya terpapar konten bermuatan radikalisme, tetapi juga berpotensi terseret ke dalam jejaring online berpengaruh negatif dan sulit dilepaskan, demikian pandangan sejumlah pemerhati keamanan siber,” ungkapnya.

Para ahli menilai, upaya perlindungan tidak cukup hanya dengan memblokir akses internet berbahaya. Diperlukan kolaborasi antara keluarga, sekolah, pemerintah, dan masyarakat untuk menciptakan ruang digital yang aman, sekaligus memperkuat ketahanan mental generasi muda agar tidak mudah dipengaruhi narasi ekstrem.

Dalam konteks ini, berbagai kelompok pemuda termasuk Paskibraka didorong menjadi agen perubahan — memberikan contoh bahwa pendidikan inklusif, pergaulan positif, serta aktivitas kebangsaan mampu membuka jalan menuju masa depan lebih cerah bagi pemuda Indonesia.

Menurutnya, upaya pencegahan menjadi tantangan bersama: memastikan bahwa perkembangan teknologi tidak dimanfaatkan oleh kelompok tak bertanggung jawab untuk merusak masa depan anak bangsa.
Kegiatan itu sendiri diikuti oleh 150 peserta dari Paskibraka Papua Tengah.


Acara yang dibuka secara resmi oleh Ka Kesbangpol Papua Tengah Albertus Adii, S.E., M.Si juga menghadirkan nara sumber Ketua Bakorwil Forum Kader Bela Negara (FKBN) Provinsi Papua Tengah Samuel Sauwyar dan dari Purna Paskibraka Supami. (Red)

Advertisement

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version