Berita Daerah

Menembus Isolasi Jita : Perjuangan Menghadirkan Kapal Perintis ke Sipu-Sipu

Published

on

Wakil Ketua IV DPRP-PT John N.R.Gobai saat Kunker Melihat Langsung Kondisi Dermaga di Yaur

Nabire, Papua Tengah – enagoNews – Di ujung timur Kabupaten Mimika, tepat di perbatasan dengan Kabupaten Asmat, Distrik Jita selama bertahun-tahun hidup dalam keterisolasian. Laut menjadi satu-satunya jalan, namun juga sekaligus ancaman. Dari Pelabuhan Pomako, biaya sewa perahu menuju Jita bisa mencapai Rp25 juta hingga Rp30 juta—angka yang mustahil dijangkau oleh sebagian besar masyarakat. Tak sedikit pula kisah pilu yang terdengar, perahu terbalik dihantam ganasnya gelombang laut, merenggut rasa aman bahkan nyawa.
Kisah inilah yang disampaikan Wakil Ketua IV DPR Provinsi Papua Tengah, John N. R. Gobai, pada Rabu malam, 31 Desember 2025, di penghujung tahun yang penuh perjuangan. Baginya, Jita bukan sekadar titik di peta, tetapi rumah bagi masyarakat yang berhak atas akses transportasi yang layak dan aman.
Perjuangan menghadirkan pelayanan kapal perintis ke Dermaga Sipu-Sipu, Distrik Jita, berawal dari keprihatinan mendalam atas pendangkalan sungai-sungai yang selama ini menjadi jalur transportasi utama masyarakat di wilayah timur Mimika. Pendangkalan tersebut, menurut John Gobai, tak lepas dari aktivitas PT Freeport Indonesia.
“Saya berpikir, kalau hanya memprotes tanpa menawarkan solusi, itu tidak cukup,” tuturnya. Dari kegelisahan itulah lahir tekad untuk memperjuangkan solusi nyata: kapal perintis yang bisa singgah langsung di Jita.


Upaya tersebut membuahkan hasil. Pada rencana awal, pelayanan kapal perintis ke Distrik Jita dijadwalkan dimulai tahun 2025 dengan KM Sabuk Nusantara 114. Namun harapan itu sempat tertunda akibat pendangkalan di depan Pulau Tiga, sehingga hingga Desember 2025 pelayanan belum dapat berjalan.
Harapan kembali menyala ketika Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan RI menetapkan bahwa trayek tersebut akan berlanjut pada tahun 2026. Kapal perintis Sanus akan melayani rute Agats – Sipu-Sipu/Jita – Pomako – Sipu-Sipu/Jita – Agats.
“Puji Tuhan, ini adalah langkah besar bagi masyarakat Jita,” ujar John Gobai penuh syukur.
Namun perjuangan belum selesai. Ia menegaskan bahwa pendangkalan sungai harus menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Papua Tengah, Pemerintah Kabupaten Mimika, serta PT Freeport Indonesia. Normalisasi dan pengerukan sungai mutlak diperlukan agar transportasi masyarakat dapat berjalan lancar dan berkelanjutan.


Dengan dibukanya trayek perintis ini, harapan baru tumbuh. Guru, mantri kesehatan, dan staf distrik kini memiliki akses untuk tinggal dan melayani masyarakat di distrik dan kampung-kampung sekitar. Program-program pemerintah pun diharapkan dapat berjalan efektif. Masyarakat bisa membawa hasil bumi ke kota untuk dijual, lalu kembali ke kampung dengan bekal kebutuhan hidup menggunakan kapal yang sama—sebuah siklus ekonomi sederhana yang selama ini terputus oleh keterisolasian.
Sebagai pimpinan DPR Papua Tengah yang konsisten memperjuangkan pelayanan kapal perintis, baik di wilayah utara maupun selatan Papua Tengah, John Gobai menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Menteri Perhubungan RI, Dirjen Perhubungan Laut, Direktur dan jajaran Angkutan Laut, serta para Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Papua Tengah, Papua Selatan, dan Papua beserta seluruh staf.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Kepala Distrik Jita, para kepala kampung, tokoh-tokoh masyarakat, serta seluruh warga Distrik Jita, Kabupaten Mimika—masyarakat yang dengan kesabaran dan keteguhan hati menunggu hadirnya keadilan transportasi.
Bagi Jita, kapal perintis bukan sekadar alat angkut. Ia adalah jembatan harapan, yang menghubungkan kampung dengan masa depan. (RED)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version