Sebuah Renungan Di bawah langit yang mulai temaram, angin sore berembus pelan menyusuri pematang sawah di sebuah dusun kecil di tanah Jawa. Padi yang menguning bergoyang lirih, seolah ikut berzikir menyambut datangnya bulan suci. Aroma tanah basah bercampur wangi bunga kenanga dan melati yang baru dipetik dari halaman rumah-rumah warga. Ramadhan tinggal hitungan hari. Di dusun itu, tradisi ziarah kubur—atau yang akrab disebut nyekar—bukan sekadar kebiasaan turun-temurun. Ia adalah jembatan sunyi antara yang hidup dan yang telah lebih dulu pulang. Lebih dari itu, ziarah menjadi pengingat paling jujur bahwa setiap manusia pun akan menyusul, bahwa kehidupan di dunia hanyalah persinggahan sementara.
“Pak, besok kita nyekar, ya?” Suara itu datang dari Raka, bocah sepuluh tahun yang sore itu duduk di beranda rumah panggung sederhana milik keluarganya. Tangannya masih memegang buku pelajaran, tetapi matanya menatap jauh ke arah bukit kecil di ujung dusun—tempat pemakaman umum berada. Sang ayah, Pak Wiryo, mengangkat wajahnya dari anyaman bambu yang sedang ia kerjakan. Ia tersenyum tipis. “Kenapa tiba-tiba ingin ke makam, Le?” tanyanya lembut. “Raka ingat Mbah Kakung,” jawabnya pelan. “Kata Bu Guru, menjelang Ramadhan kita dianjurkan mendoakan orang yang sudah meninggal. Supaya kita juga ingat, suatu hari kita pasti menyusul.” Kalimat terakhir itu membuat Pak Wiryo terdiam sejenak. Ia tak menyangka anak sekecil itu sudah mulai memahami makna kematian. “Betul,” katanya akhirnya. “Ziarah itu bukan hanya untuk mereka yang sudah tiada. Tapi juga untuk kita, supaya tidak lupa diri.” Dari dalam rumah, Bu Sari menyahut, “Sekalian kita bersihkan makamnya. Besok Ibu siapkan bunga.” Pagi itu, matahari belum tinggi ketika mereka melangkah menuju bukit. Jalan setapak berbatu terasa sejuk di kaki. Di sepanjang perjalanan, warga dusun berjalan beriringan, membawa sapu lidi, air dalam jeriken, dan plastik berisi bunga mawar serta melati.
Pemakaman tampak ramai namun hening. Orang-orang sibuk membersihkan rumput, merapikan tanah, menyiram air, lalu duduk bersila membaca doa. Tak ada suara keras, hanya lirih bacaan ayat-ayat suci dan hembusan angin yang menyapu dedaunan. Raka berdiri di depan makam kakeknya. Nisan kayu itu sederhana, sedikit miring dimakan usia. Ia menyapu daun-daun kering dengan hati-hati, lalu membantu ayahnya mencabut rumput liar. Setelah makam bersih, mereka menaburkan bunga dan duduk bersila. Pak Wiryo memimpin doa, memohon agar almarhum diampuni dosa-dosanya, dilapangkan kuburnya, dan diberi tempat terbaik di sisi Allah. Namun di sela doa itu, Pak Wiryo menambahkan kalimat yang lebih pelan, hampir seperti bisikan untuk dirinya sendiri. “Ya Allah, jadikan ziarah ini pengingat bagi kami bahwa hidup ini sementara. Jangan biarkan kami lalai sebelum waktu kami tiba.” Raka membuka matanya sejenak. Ia memandang sekeliling. Deretan nisan berdiri tanpa suara, masing-masing menyimpan cerita hidup yang telah selesai. Ada yang wafat di usia muda, ada pula yang mencapai usia senja. Semua sama—terbaring dalam tanah yang sama. “Pak,” bisik Raka setelah doa selesai, “kalau kita lihat makam begini… rasanya seperti diingatkan.” Pak Wiryo mengangguk. “Itulah tujuan ziarah, Le. Kita datang bukan hanya membawa bunga dan doa, tapi juga membawa kesadaran. Bahwa kita pun akan berada di sini suatu hari nanti. Supaya kita lebih hati-hati dalam hidup.” Raka menunduk, meresapi kalimat itu. Untuk pertama kalinya, ia memahami bahwa kematian bukan sekadar cerita orang dewasa. Ia nyata, dekat, dan pasti. Bagi warga dusun itu, nyekar menjelang Ramadhan adalah semacam muhasabah bersama. Sebelum memasuki bulan suci yang penuh ampunan, mereka terlebih dahulu menundukkan hati di hadapan tanah dan nisan. Mereka mendoakan orang-orang tercinta yang telah pergi, sekaligus mengingatkan diri agar tidak sombong, tidak serakah, dan tidak menunda kebaikan. Sebab di antara deretan makam itu, semua gelar dan harta tak lagi berarti.
Dalam perjalanan pulang, Raka menggenggam tangan ayahnya lebih erat dari biasanya. “Pak, kalau kita ingat kematian, kita jadi takut ya?” “Bukan takut yang membuat putus asa,” jawab Pak Wiryo lembut. “Tapi takut yang membuat kita ingin jadi lebih baik.” Langkah mereka menuruni bukit terasa lebih tenang. Ramadhan sudah di ambang pintu. Dan seperti makam yang telah dibersihkan pagi itu, hati mereka pun terasa lebih lapang. Di dusun kecil itu, tradisi nyekar bukan sekadar ritual budaya. Ia adalah pelajaran hidup yang diwariskan diam-diam dari generasi ke generasi—bahwa mendoakan yang telah tiada adalah bentuk kasih sayang, dan mengingat kematian adalah cara paling jujur untuk mempersiapkan diri menjadi manusia yang lebih baik. (Red)