Berita Nasional

Suara Hati Anak Pesantren Kyai Pendiri NU

Published

on

by : ing elsa

“Kisruh di Tubuh PBNU”
NU Oh….NU…

Di bawah naungan langit pesantren
yang setiap subuh memantulkan gema ayat-ayat suci,
aku duduk memeluk sepi—
sepi yang dulu diwariskan para kiai
sebagai tempat bercermin dan menimbang hati.

Namun kini,
dari kejauhan itu datang kabar keruh,
mengalir bersama angin seperti desis yang tak mau pergi.
Kisruh di tubuh PBNU
menggetarkan akar jam’iyah
yang dulu ditanam dengan cinta dan air mata.

Aku mendengar tentang rapat yang patah,
tentang keputusan yang digugat,
tentang kursi yang diperebutkan
seolah ia adalah takhta dunia—
padahal para pendiri NU selalu berkata,
“Jabatan itu amanah, bukan rebutan.”

Di antara tembok-tebok tebal kantor besar itu,
ada suara yang saling meninggi,
ada wajah yang saling menuding,
ada hati yang mungkin mulai jauh
dari pesan sederhana para masyayikh:
ngrawat umat, bukan menguatkan kuasa.

Ego kini menjelma raksasa,
melangkahi nilai-nilai tawadhu’
yang dulu menjadi napas setiap santri.
Kepentingan tumbuh seperti bayang panjang
yang menutupi cahaya
hingga moral yang dibawa para ulama
perlahan tampak kusam dan tergores.

Aku bertanya dalam hati:
mengapa rumah besar ini
yang dulu mempersatukan para kiai kampung
dan menenangkan gejolak republik
sekarang justru gaduh oleh perdebatan
yang tak lagi mencerminkan kesejukan?

PBNU adalah kiblat moral—
tempat rakyat kecil menaruh harap
agar suara mereka didengar,
agar akhlak tetap dijaga,
agar tradisi tetap teguh di tengah gempuran zaman.
Tetapi kini rumah itu terasa berguncang;
sebagian penghuninya lupa
bahwa NU dibangun bukan dengan kemewahan
melainkan kesederhanaan dan keberkahan.

Aku, seorang anak pesantren
yang tak punya apa-apa selain doa,
hanya ingin berbisik pada para masyayikh masa kini:
“Mohon, jangan biarkan amarah memecah kita.
Jangan biarkan ambisi menenggelamkan teladan para pendiri.
Ingatlah, dunia ini fana,
tapi nama baik jam’iyah adalah amanah abadi.”

Di malam-malam panjang
ketika para santri menekuni kitab kuning,
aku melihat bayang para kiai tua
yang dulu mengajar dengan tangan bergetar
karena rendah hati, bukan karena takut kehilangan.
Mereka menanam warisan
bukan untuk diperebutkan
tetapi untuk dijaga.

Andai mereka masih ada,
mungkin mereka hanya tersenyum lirih
melihat keramaian yang tak seharusnya.
Mungkin mereka akan berkata lembut,
“Jangan mencoreng NU demi dunia,
sebab NU berdiri untuk akhirat.”

Wahai para pemangku amanah,
kembalilah pada hening,
pada musyawarah yang teduh,
pada akhlak yang dulu menjadi mahkota.

Jika badai sedang pecah di langit PBNU,
maka tugas kitalah mencari teduhnya.
Jika suara menjadi gaduh,
kitalah yang harus menghadirkan jernih.
Dan jika rumah besar kita retak,
maka perbaikilah dengan cinta
sebelum retaknya menjadi runtuh.

Aku percaya,
selama para santri masih sujud,
selama doa para kiai masih terangkat,
selama NU masih dipeluk umat,
kisruh ini hanyalah ujian,
bukan kehancuran.

Sebab di balik hiruk-pikuk dunia,
ruh Nahdlatul Ulama
tetap berdiri tegak
di sisi kebenaran
yang diwariskan para pendiri.

Di tengah kisruh yang tak kunjung reda,
aku bertanya pada diriku sendiri—
pada hati yang dibesarkan dalam asuhan kiai,
pada jiwa yang tumbuh dari lantunan manaqib dan shalawat:

Bagaimana kami mengaku NU
jika rumah besar ini dipenuhi riuh
yang tak mencerminkan keteduhan para guru?
Bagaimana kami menyandang nama itu dengan mantap
jika teladan yang harusnya menuntun
malah tersapu arus kepentingan yang saling menyeret?

Bagaimana kami bangga dengan NU
jika wajah jam’iyah di ruang publik
mulai keruh oleh perebutan suara, kursi, dan kuasa?
Sedangkan dulu—
kebanggaan itu lahir dari kesederhanaan para kiai
yang memilih diam,
daripada memperuncing hati umat.

Bagaimana kami meyakinkan dunia
bahwa NU adalah Rahmatan lil ‘Alamīn,
rahmat bagi seluruh semesta,
jika di dalam tubuh sendiri
kita masih kesulitan menjaga kesejukan?
Rahmat bukan hanya ditulis di kitab,
tetapi ditampakkan lewat akhlak
yang mengalah, merangkul, dan menenangkan.

Bagaimana NU menjadi perekat bangsa
jika sebagian panutannya
terlihat bersilang pendapat tanpa keanggunan?
Bukankah para pendiri mengajarkan
bahwa perbedaan adalah ladang pahala,
bukan medan perebutan?
Bahwa bangsa ini harus dipeluk,
bukan diperlihatkan retak dari rumah sendiri?

Lalu aku berbisik pada keheningan:
Bagaimana kami dapat mantap meneladani,
bila panutan berebut kekuasaan
dalam bingkai materialisme?
Padahal para kiai dulu menolak dunia,
sedangkan hari ini
dunia justru menghampiri pintu jam’iyah
dengan senyum menggoda
dan sebagian hati tergelincir tanpa sadar.

Namun meski hati ini perih,
aku tetap percaya—
NU lebih besar dari kisruh,
lebih tua dari riuh,
lebih mulia dari sekadar perebutan kursi.

Sebab akar NU adalah doa,
batangnya adalah tasawuf,
rantingnya adalah ilmu,
daunnya adalah akhlak,
dan buahnya adalah keteduhan bagi negeri.

Jika kini badai sedang menguji,
maka bukan berarti pohon ini tumbang.
Kita hanya harus kembali menguatkan akar:
mengembalikan NU pada makna,
bukan pada kemewahan;
pada pelayanan,
bukan pada kebesaran nama;
pada akhlak,
bukan pada hiruk-pikuk kuasa.

Dan aku, anak kecil dari serambi pesantren,
masih percaya NU akan kembali jernih—
sejernih niat para pendiri
yang membangunnya dengan air mata,
bukan dengan kepentingan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Trending Now

Exit mobile version