Connect with us

Pendidikan

Ketika Besi Berjiwa: Warisan Pamor dalam Keris Nusantara”

Published

on

“Empu dan Doa di Balik Nyala Api yang Tak Pernah Padam

Nabire, EnagoNews — Di balik nyala tungku yang memerah di malam hari, suara palu berpadu dengan bisikan doa. Seorang empu tua, bersarung dan berikat kepala, menatap bilah besi yang ditempanya dengan khidmat. Di tangannya, besi bukan sekadar logam — ia tengah melahirkan keris, pusaka yang menyimpan jiwa dan sejarah panjang peradaban Nusantara.

🔥 Dari Api dan Jiwa Empu

Keris dikenal sebagai senjata sekaligus pusaka yang memiliki nilai spiritual tinggi. Dalam tradisi Jawa, Bali, Bugis, dan daerah lain di Nusantara, keris bukan sekadar benda, melainkan simbol jati diri, keberanian, dan keseimbangan hidup.

“Besi boleh sama, tapi jiwa empu-lah yang membuat keris berbeda,” ujar Mbah Seno (78), empu asal Tulungagung, yang telah lebih dari setengah abad menempa pusaka.
Menurutnya, proses pembuatan keris selalu diawali dengan puasa, semedi, dan doa, sebab setiap ketukan palu bukan hanya membentuk logam, tapi juga membentuk batin.

🌙 Pamor: Wajah dan Watak Keris

Advertisement

Bagian paling menarik dari keris adalah pamor — guratan atau pola alami pada bilah yang muncul dari campuran besi, nikel, atau bahkan meteorit.
Setiap pamor punya filsafat dan tuahnya sendiri:

Pamor Wos Wutah (butiran nasi tumpah): lambang rezeki yang mengalir tanpa henti.

Pamor Udan Mas (tetesan emas): dipercaya membawa keberuntungan dan kemakmuran.

Pamor Ron Genduru (pola daun pandan): penolak bala dan pelindung pemilik.

Pamor Lar Geni (seperti nyala api): melambangkan semangat dan keberanian.

Menurut Empu Prawiro, pamor adalah “nafas” keris. “Kalau pamornya hidup, berarti doa dan niatnya bersih. Tapi kalau pamor mati, itu tanda hati pembuatnya keruh,” ujarnya sambil mengusap bilah yang baru selesai diasah.

⚖️ Filosofi dan Kehidupan

Selain pamor, lekukan (luk) pada keris juga memiliki makna spiritual.
Keris lurus melambangkan keteguhan dan kestabilan, sementara keris berluk — tiga, lima, sembilan, hingga tiga belas — menggambarkan perjalanan manusia mencari keseimbangan antara dunia dan akhirat.

Filosofi ini hidup dalam keseharian masyarakat. Di banyak rumah Jawa, keris disimpan dengan penuh hormat dan dimandikan (dijamas) setiap bulan Suro. Upacara ini bukan ritual mistik, tetapi bentuk penghormatan terhadap nilai leluhur: penyucian diri dan pengingat keseimbangan batin.

Advertisement

🌾 Warisan Takbenda Dunia

UNESCO pada 25 November 2005 menetapkan Keris Indonesia sebagai Warisan Kemanusiaan Takbenda, mengakui keunikan perpaduan antara seni, spiritualitas, dan teknologi metalurgi tradisional Nusantara.

Namun di balik pengakuan dunia, para empu tetap bekerja dalam senyap. Di bengkel-bengkel kecil di Madura, Solo, hingga Sumenep, mereka masih menjaga nyala api dan doa, memastikan pamor-pamor kuno tetap berkilau di bilah-bilah baru.

“Keris bukan benda untuk disembah, tapi untuk dipahami,” ujar Mbah Seno menutup malam. “Ia mengajarkan manusia untuk tajam dalam pikir, tapi halus dalam hati.”

🕯️ Nilai yang Tak Lekang oleh Waktu

Kini, keris tak lagi menjadi senjata perang, melainkan lambang kehormatan, seni, dan filosofi hidup. Ia mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan pada ketajaman bilah, melainkan pada kejernihan jiwa pemiliknya.

Di bawah cahaya tungku yang perlahan meredup, empu tua itu kembali menunduk. Palunya berhenti, tapi api dalam dirinya tetap menyala. Di bilah yang dingin itu, terpahat sebuah pesan sunyi:

“Yang ditempa bukan hanya besi, tapi juga jiwa manusia.”

Advertisement

Ketika Besi Berjiwa: Cerita di Balik Keris dan Pamornya”
ing elsa

Di sebuah bengkel kecil di lereng Gunung Lawu, bau arang dan suara palu berpadu dengan lantunan doa. Seorang lelaki tua berikat kepala duduk bersila di depan tungku api. Tangannya hitam legam oleh jelaga, tapi matanya jernih dan tenang. Ia adalah empu, penjaga warisan berabad-abad: sang penempa keris — pusaka yang bukan sekadar besi, melainkan jiwa bangsa.

“Keris itu bukan senjata,” ujar sang empu lirih, “ia cermin diri manusia. Kalau hatimu keruh, pamornya tidak akan hidup.”

🔥 Dari Api dan Doa

Pembuatan keris tidak pernah semata urusan logam. Dalam setiap lipatan besi, ada doa yang diselipkan; dalam setiap hentakan palu, ada niat yang ditiupkan.

Prosesnya panjang: empu akan berpuasa, bertapa, dan memilih hari baik, sebelum menempa bilah keris. Logam nikel atau meteorit ditumbuk bersama besi hitam hingga menyatu. Dari perpaduan itulah lahir pamor — guratan berwarna perak keabu-abuan yang hidup di permukaan bilah.

Setiap pamor unik, seperti sidik jari manusia. Ada yang berpola seperti tetesan emas (Udan Mas), simbol kemakmuran; ada pula Wos Wutah, mirip butiran nasi yang tumpah, tanda rezeki yang tak putus. Bagi para empu, pamor bukan sekadar hiasan — ia adalah jiwa keris, manifestasi dari alam dan niat pembuatnya.

🌙 Roh dalam Bilah

Advertisement

Di banyak daerah di Nusantara, keris diyakini memiliki “isi”. Ia bisa bersifat halus, bisa pula keras. Karena itu, tidak semua orang boleh memiliki atau menaruhnya sembarangan.
Sebelum diserahkan, empu biasanya akan membacakan doa dan mantra untuk “mengikat” energi keris dengan si pemilik.

Di rumah-rumah Jawa, keris sering disimpan dalam kotak kayu cendana atau warangka berselubung kain putih, lalu dimandikan setiap bulan Suro. Upacara ini disebut “Jamasan Keris” — simbol penyucian lahir dan batin, seperti manusia yang perlu kembali pada kesadaran diri.

“Kalau pamor kerisnya terang,” kata Mbah Seno, empu dari Tulungagung, “berarti hatimu juga terang. Tapi kalau kusam, periksalah jiwamu dulu sebelum besinya.”

🌾 Filosofi dari Dua Warna Besi

Keris mengajarkan keseimbangan. Warna gelap dan terang pada pamornya melambangkan hidup yang selalu berdampingan antara berani dan sabar, dunia dan akhirat, jasmani dan rohani.

Setiap lekukan (luk) di bilahnya juga punya makna:
Luk 3 menandakan ketegasan dan kecepatan bertindak,
Luk 5 menggambarkan keseimbangan hidup,
Luk 9 melambangkan tingkat spiritual tinggi,
Luk 13 adalah lambang kebijaksanaan paripurna.

Dalam diamnya, keris seakan berbicara tentang jalan tengah kehidupan, tentang bagaimana manusia seharusnya tajam terhadap kebenaran tapi lembut dalam kebijaksanaan.

🌍 Dari Jawa ke Dunia

Advertisement

Pada 25 November 2005, UNESCO menobatkan Keris Indonesia sebagai Warisan Kemanusiaan Takbenda. Dunia mengakui bahwa benda yang tampak kecil ini sesungguhnya memuat filsafat, seni, dan spiritualitas tinggi dari peradaban Nusantara.

Namun di balik pengakuan itu, para empu di desa-desa tetap bekerja dalam senyap. Mereka tidak mengejar nama, hanya menjaga nyala warisan agar tak padam.

🕯️ Penutup: Jiwa yang Menempa

Keris bukanlah benda untuk disembah, tapi untuk dipahami. Ia mengajarkan manusia agar tidak hanya tajam di ujung senjata, tapi juga tajam dalam nurani.

Malam itu, di bawah temaram lampu minyak, sang empu kembali menunduk di depan api. Palunya beradu dengan besi, menghasilkan suara yang lembut tapi berisi. Seperti sedang berdialog dengan masa lalu, ia berbisik pelan:
“Yang ditempa bukan hanya besi… tapi juga jiwa manusia.”

Keris dan Pamor: Warisan Sakral Nusantara

1. Asal Usul dan Sejarah Keris

Keris adalah senjata tradisional khas Nusantara yang memiliki makna lebih dari sekadar alat perang. Ia adalah simbol spiritual, budaya, dan identitas bangsa Indonesia.

Asal mula:
Diperkirakan muncul sekitar abad ke-9 di masa Kerajaan Medang (Mataram Kuno). Bukti keberadaannya terlihat pada relief di Candi Borobudur dan Prambanan.

Advertisement

Penyebaran:
Dari Jawa, tradisi pembuatan dan penggunaan keris menyebar ke Bali, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, bahkan hingga Malaysia, Brunei, dan Filipina Selatan.

Fungsi:
Dulu keris digunakan sebagai senjata, tetapi kemudian lebih sering menjadi pusaka, simbol status sosial, dan media spiritual yang dipercaya membawa energi tertentu.

2. Filosofi dan Makna Keris

Bagi masyarakat tradisional, keris bukan hanya benda mati, tetapi diyakini memiliki “roh” atau tuah.
Makna filosofinya antara lain:

Pegangan (hulu) melambangkan manusia dan pengendalian diri.
Bilahan (besi utama) melambangkan keberanian dan perjuangan.
Warangka (sarung) melambangkan kehormatan dan pengendalian nafsu.
Keseluruhan keris melambangkan kesatuan antara jasmani dan rohani.

3. Pamor: Jiwa dalam Bilah Keris

Pamor adalah pola atau motif berwarna perak keabu-abuan yang muncul di permukaan bilah keris.
Pamor ini bukan lukisan, tetapi hasil paduan logam nikel, meteorit, atau besi pamor yang ditempa bersama bilah keris.

Setiap pamor punya makna dan tuah tersendiri, dipercaya membawa pengaruh terhadap pemiliknya.

Advertisement

4. Jenis-Jenis Pamor Keris (dan Maknanya)

Berikut beberapa pamor terkenal beserta maknanya:

Nama Pamor Ciri-ciri / Bentuk Makna Filosofis / Tuah

Pamor Wos Wutah Seperti butiran nasi tumpah Rezeki lancar, berkah melimpah
Pamor Udan Mas Titik-titik seperti tetesan emas Kekayaan, kemakmuran, kejayaan
Pamor Blarak Sineret Garis sejajar seperti daun kelapa Keuletan, kesetiaan, keteguhan hati
Pamor Ngulit Semangka Motif seperti kulit semangka Ketenangan, keseimbangan batin
Pamor Adeg Garis lurus ke bawah Ketegasan, kewibawaan, kepemimpinan
Pamor Ron Genduru Pola menyerupai daun pandan Penolak bala, perlindungan dari bahaya
Pamor Lar Geni Seperti nyala api Semangat, keberanian, kekuatan spiritual
Pamor Beras Wutah Titik-titik kecil menyebar Simbol kemurahan rezeki dan kerendahan hati.

⚜️ Pamor dapat bersifat rekan (dibuat sengaja oleh empu) atau tiban (muncul alami tanpa direncanakan) — dan pamor tiban dianggap memiliki “tuah” lebih tinggi karena dipercaya terbentuk dari kehendak alam atau kekuatan gaib.

5. Empu: Sang Pencipta Keris

Keris dibuat oleh empu, seorang pandai besi sekaligus rohaniawan.
Prosesnya bukan sekadar teknik menempa besi, tapi juga ritual spiritual yang melibatkan:

Puasa dan semedi,
Mantra dan doa,
Pemilihan hari baik,
Persembahan sesaji.

Advertisement

Empu dipercaya mampu “meniupkan roh” ke dalam keris, menjadikannya pusaka yang hidup dan memiliki karakter sendiri.

6. Bentuk dan Luk Keris

Keris ada dua jenis:
Keris lurus (tanpa luk) – melambangkan keteguhan, stabilitas, dan kewibawaan.

Keris berluk (bergelombang) – biasanya 3, 5, 7, 9, hingga 13 luk.
Jumlah luk memiliki makna khusus, misalnya:
Luk 3: tegas, cepat mengambil keputusan
Luk 5: keseimbangan, kesabaran
Luk 7: keberuntungan
Luk 9: kekuatan spiritual tinggi
Luk 13: kematangan batin dan kebijaksanaan.

7. Pengakuan Dunia

UNESCO menetapkan Keris Indonesia sebagai Warisan Kemanusiaan Takbenda pada 25 November 2005.
Pengakuan ini menegaskan bahwa keris bukan hanya warisan Indonesia, tetapi juga mahakarya budaya dunia.

8. Makna Keris di Zaman Modern

Kini keris tidak lagi digunakan sebagai senjata, tetapi sebagai:
Simbol kehormatan dan identitas budaya,
Pusaka keluarga,
Lambang spiritualitas dan nilai moral,
Karya seni logam tingkat tinggi.(Red)

Advertisement

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Daerah

DENZIPUR 12/OHH Laksanakan Assessment Proyeksi Personel Satgas MONUSCO, Siapkan Prajurit Profesional untuk Misi Perdamaian PBB

Published

on


PAPUA TENGAH, CENTRAL MEDIA – Dalam upaya menyiapkan prajurit yang profesional, tangguh, dan siap mengemban tugas operasi pemeliharaan perdamaian dunia, Detasemen Zeni Tempur (Denzipur) 12/OHH melaksanakan kegiatan assessment proyeksi personel Satgas MONUSCO (United Nations Organization Stabilization Mission in the Democratic Republic of the Congo).
Kegiatan assessment ini merupakan bagian dari tahapan seleksi yang dilaksanakan secara menyeluruh guna memastikan setiap personel yang diproyeksikan mengikuti penugasan internasional memiliki kemampuan, integritas, serta kesiapan yang sesuai dengan standar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Melalui proses seleksi yang objektif dan transparan, Denzipur 12/OHH berkomitmen menghadirkan prajurit terbaik untuk mendukung misi perdamaian dunia.


Dalam pelaksanaannya, assessment mencakup berbagai aspek penilaian, mulai dari kemampuan fisik, kesehatan jasmani dan rohani, kesiapan mental, pengetahuan umum, keterampilan teknis kecabangan zeni, kemampuan berbahasa Inggris, hingga kelengkapan administrasi. Seluruh tahapan tersebut menjadi indikator penting dalam menentukan kelayakan personel yang akan diusulkan mengikuti Satgas MONUSCO.


Selain menguji kemampuan individu, kegiatan ini juga menjadi sarana evaluasi untuk mengukur kesiapan prajurit dalam menghadapi tantangan penugasan di wilayah operasi yang memiliki karakteristik berbeda dengan penugasan di dalam negeri. Personel dituntut memiliki disiplin tinggi, kemampuan beradaptasi, kerja sama tim yang baik, serta profesionalisme dalam menjalankan setiap tugas yang diberikan.


Komandan Denzipur 12/OHH menegaskan bahwa setiap personel harus mengikuti seluruh rangkaian assessment dengan penuh kesungguhan dan rasa tanggung jawab. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kondisi kesehatan, meningkatkan kemampuan teknis maupun nonteknis, serta terus mengembangkan kompetensi agar mampu bersaing dan memenuhi standar yang ditetapkan PBB.
“Setiap prajurit harus mempersiapkan diri secara maksimal, baik dari aspek fisik, mental, maupun kemampuan profesional. Penugasan dalam misi perdamaian dunia merupakan sebuah kehormatan sekaligus amanah negara yang harus dijalankan dengan penuh dedikasi, loyalitas, dan tanggung jawab,” tegasnya.


Indonesia sendiri dikenal sebagai salah satu negara yang secara konsisten berkontribusi dalam operasi pemeliharaan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kontribusi tersebut diwujudkan melalui pengiriman berbagai satuan, termasuk unsur Kompi Zeni (Kizi), yang memiliki peran strategis dalam pembangunan infrastruktur, perbaikan jalan dan jembatan, pembukaan akses mobilitas pasukan, pembangunan fasilitas pendukung, serta berbagai pekerjaan rekayasa teknik lainnya di daerah misi.
Keikutsertaan prajurit TNI dalam Satgas MONUSCO tidak hanya menjadi bentuk komitmen Indonesia dalam menjaga perdamaian dan stabilitas dunia, tetapi juga menjadi ajang untuk menunjukkan profesionalisme, kemampuan, dan citra positif TNI di mata masyarakat internasional.


Melalui pelaksanaan assessment ini, Denzipur 12/OHH berharap dapat menghasilkan personel terbaik yang memiliki kompetensi, disiplin, integritas, dan semangat pengabdian tinggi sehingga mampu mengemban tugas dengan baik serta mengharumkan nama TNI dan Republik Indonesia dalam setiap pelaksanaan misi perdamaian di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa. (Red)

Continue Reading

Berita Daerah

Bangkit Papua Tengah Resmi Diluncurkan, Gubernur Meki Nawipa Canangkan Gerakan Terpadu Percepat Penurunan Kemiskinan dan Stunting

Published

on


PAPUA TENGAH, CENTRAL MEDIA NEWS – Pemerintah Provinsi Papua Tengah secara resmi meluncurkan Program Bangkit Papua Tengah (Bangun Generasi dan Keluarga yang Inklusif dan Tangguh) sebagai salah satu program prioritas daerah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan perlindungan sosial masyarakat. Peluncuran berlangsung di Ballroom Kantor Gubernur Papua Tengah, Nabire, Selasa (21/7/2026).


Program ini diluncurkan langsung oleh Gubernur Papua Tengah, Meki Fritz Nawipa, didampingi Wakil Gubernur Deinas Geley, Sekretaris Daerah dr. Silwanus Sumule, pimpinan OPD, Forkopimda, Majelis Rakyat Papua (MRP), DPR Papua Tengah, serta perwakilan empat pemerintah kabupaten yang menjadi lokasi awal pelaksanaan program.
Peluncuran Ditandai Penandatanganan Komitmen Bersama


Peluncuran Program Bangkit Papua Tengah ditandai dengan penandatanganan berita acara antara Pemerintah Provinsi Papua Tengah dengan empat pemerintah kabupaten yang menjadi pilot project, yaitu:
Kabupaten Paniai
Kabupaten Intan Jaya
Kabupaten Dogiyai
Kabupaten Puncak Jaya
Sebagai simbol dimulainya implementasi program, Gubernur Meki Nawipa juga menyerahkan bantuan kepada empat perwakilan masyarakat dari kabupaten tersebut.


Program Bangkit merupakan inisiatif Pemerintah Provinsi Papua Tengah melalui Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Provinsi Papua Tengah, yang dirancang sebagai gerakan pembangunan terpadu dengan fokus pada peningkatan kesejahteraan keluarga, perlindungan anak, penanganan kemiskinan, serta percepatan penurunan stunting.
Kepala Bapperida: Bangkit Menjadi Gerakan Pembangunan Terpadu


Kepala Bapperida Provinsi Papua Tengah, Eliezer Yogi, S.STP., M.Si, menjelaskan bahwa peluncuran Program Bangkit merupakan momentum dimulainya implementasi resmi program yang berorientasi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat Papua Tengah.
Menurutnya, Program Bangkit hadir sebagai gerakan pembangunan terpadu yang mengintegrasikan berbagai sektor, khususnya dalam bidang perlindungan sosial dan pembangunan sumber daya manusia.
Ia menyampaikan bahwa terdapat beberapa tujuan utama dari pelaksanaan program tersebut, di antaranya:
Memperkenalkan Program Bangkit Papua Tengah kepada masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan.
Menyampaikan arah kebijakan Pemerintah Provinsi Papua Tengah dalam bidang perlindungan sosial dan pembangunan sumber daya manusia.
Membangun komitmen bersama antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, mitra pembangunan, serta masyarakat dalam mendukung keberhasilan program.
Menyerahkan dan memanfaatkan data terpadu sebagai dasar penyaluran manfaat program agar tepat sasaran.
Eliezer menegaskan bahwa data yang akurat menjadi fondasi utama keberhasilan Program Bangkit.
“Kami berharap melalui pelaksanaan launching Program Bangkit Papua Tengah ini akan semakin memperkuat sinergi seluruh pemangku kepentingan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua Tengah melalui perlindungan sosial yang tepat sasaran, terintegrasi, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terlaksananya program, termasuk Pemerintah Australia sebagai salah satu mitra pembangunan.
Gubernur : Bangkit Hadir Menjawab Tantangan Kemiskinan dan Stunting


Dalam sambutannya, Gubernur Papua Tengah Meki Fritz Nawipa mengatakan Program Bangkit lahir sebagai jawaban atas berbagai tantangan pembangunan yang masih dihadapi Papua Tengah, terutama tingginya angka stunting dan kemiskinan.
Menurutnya, berdasarkan data yang tersedia saat ini, angka stunting di Papua Tengah mencapai sekitar 32,5 persen, sementara angka kemiskinan berada di kisaran 28,9 persen.
Meski demikian, ia menilai pemerintah masih membutuhkan data yang lebih akurat sehingga seluruh kebijakan benar-benar tepat sasaran.
“Dengan Program Bangkit ini saya berharap kita semua membantu menghadirkan data yang benar. Kita harus tahu angka kemiskinan, angka stunting, angka kematian, sehingga pemerintah bisa membuat kebijakan yang tepat.”
Data Akurat Menjadi Kunci Pembangunan


Gubernur menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran, tetapi juga oleh kualitas data yang dimiliki pemerintah.
Menurutnya, pemerintah harus mengetahui secara pasti kondisi masyarakat, mulai dari tingkat kesejahteraan keluarga, pendapatan masyarakat hingga kebutuhan dasar yang harus dipenuhi.
Data tersebut akan menjadi dasar dalam menyusun berbagai program pembangunan, termasuk peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), pengurangan kemiskinan, hingga peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Kalau pemerintah ingin berhasil, maka harus tahu angkanya. Dari situ kita bisa mengukur apakah daerah ini maju atau belum.”
Program Strategis Gubernur Papua Tengah
Meki Nawipa menegaskan bahwa Program Bangkit telah masuk dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah sehingga keberlanjutannya telah dipersiapkan sejak awal.
Ia menyebut Bangkit sebagai Program Strategis Gubernur Papua Tengah, yang akan terus dijalankan selama masa kepemimpinannya bersama Wakil Gubernur.
Program tersebut juga merupakan hasil kerja sama antara Pemerintah Provinsi Papua Tengah dengan berbagai mitra pembangunan, termasuk Pemerintah Australia.
Dimulai di Empat Kabupaten, Bertambah Menjadi Delapan Tahun Depan


Pada tahap awal, Program Bangkit akan dilaksanakan di empat kabupaten, yaitu:
Paniai
Dogiyai
Intan Jaya
Puncak Jaya
Keempat daerah tersebut dipilih sebagai lokasi percontohan (pilot project).
Gubernur menargetkan pada tahun berikutnya program akan diperluas ke empat kabupaten lainnya sehingga seluruh wilayah Papua Tengah secara bertahap memperoleh manfaat Program Bangkit.
Anak Usia 0–4 Tahun Menjadi Prioritas


Salah satu fokus utama Program Bangkit adalah perlindungan bagi anak usia dini.
Pemerintah Provinsi Papua Tengah berkomitmen membiayai berbagai kebutuhan pelayanan bagi anak sejak lahir hingga usia empat tahun sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas generasi Papua Tengah sejak dini.
Namun demikian, Gubernur menegaskan keberhasilan program tersebut memerlukan dukungan penuh dari pemerintah kabupaten.
Ia meminta seluruh bupati menyiapkan dukungan operasional di daerah masing-masing sehingga implementasi program dapat berjalan secara optimal.
Bantuan Tunai Meningkat Menjadi Rp350 Ribu per Bulan
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur juga mengungkapkan bahwa bantuan yang sebelumnya diterima masyarakat sebesar Rp200 ribu per bulan kini ditingkatkan menjadi Rp350 ribu per bulan.
Peningkatan tersebut diharapkan mampu membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat penerima manfaat.
Komitmen Besar pada Pendidikan
Selain Program Bangkit, Pemerintah Provinsi Papua Tengah juga terus memperkuat sektor pendidikan melalui berbagai program beasiswa.
Gubernur mengungkapkan bahwa saat ini pemerintah telah membiayai:
550 mahasiswa Papua Tengah melalui program beasiswa pemerintah provinsi.
58.920 siswa SMP dan SMA melalui program pendidikan daerah.
Selain itu, melalui Program Indonesia Pintar (PIP), sebanyak 2.444 pelajar di lima kabupaten juga menerima bantuan pendidikan, dengan rincian:
Kabupaten Nabire : 1.010 siswa
Kabupaten Mimika : 700 siswa
Kabupaten Paniai : 448 siswa
Kabupaten Puncak Jaya : 171 siswa
Kabupaten Dogiyai : 151 siswa
Menurut Gubernur, komitmen tersebut menunjukkan bahwa Pemerintah Provinsi Papua Tengah terus berinvestasi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia.


Di akhir sambutannya, Gubernur kembali mengingatkan pentingnya pendataan yang valid.
Ia menilai masih terdapat data yang belum akurat sehingga berpotensi menghambat penyaluran berbagai bantuan pemerintah.
Karena itu, ia mengajak seluruh masyarakat, pemerintah kabupaten, dan aparat kampung untuk bersama-sama memperbaiki sistem pendataan agar seluruh program benar-benar diterima oleh masyarakat yang berhak.
“Kalau datanya benar, maka semua program pemerintah bisa tepat sasaran. Kita punya anggaran, kita punya niat membantu masyarakat, tetapi semua harus didukung dengan data yang valid,” tegasnya.
Bangkit Menjadi Tonggak Baru Pembangunan Papua Tengah


Peluncuran Program Bangkit Papua Tengah menjadi langkah awal Pemerintah Provinsi Papua Tengah dalam membangun sistem perlindungan sosial yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan.
Melalui kolaborasi antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, mitra pembangunan, serta masyarakat, program ini diharapkan mampu mempercepat penurunan angka kemiskinan dan stunting, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, sekaligus mewujudkan generasi Papua Tengah yang sehat, tangguh, inklusif, dan sejahtera. (Red)

Continue Reading

Berita Daerah

Semarak HUT ke-4 Papua Tengah, Pemprov Gelar Pesta Rakyat Bertema JAMBU untuk Dorong Budaya, Persatuan, dan Ekonomi UMKM

Published

on


PAPUA TENGAH, CENTRAL MEDIA NEWS – Pemerintah Provinsi Papua Tengah menggelar pesta rakyat berskala besar dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-4 Provinsi Papua Tengah. Mengusung tema JAMBU (Jangan Melupakan Budaya), rangkaian kegiatan yang dipusatkan di Halaman Kantor Gubernur Papua Tengah, kawasan Bandara Lama Nabire, berlangsung meriah dan mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat pada Selasa (21/7/2026).
Perayaan tahun ini tidak sekadar menjadi seremoni peringatan hari jadi provinsi, tetapi juga dirancang sebagai momentum mempererat persatuan masyarakat, melestarikan budaya lokal, sekaligus menggerakkan perekonomian rakyat melalui pelibatan ratusan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).


Sejak pagi, ribuan masyarakat memadati lokasi kegiatan untuk mengikuti berbagai agenda yang telah disiapkan panitia, mulai dari jalan santai, pemeriksaan kesehatan gratis, lomba Tari Yospan, hingga pameran UMKM yang menampilkan beragam produk unggulan khas Papua Tengah. Berbagai hiburan rakyat, permainan interaktif, serta pembagian doorprize dengan hadiah utama empat unit sepeda motor turut menambah semarak suasana.


Gubernur Papua Tengah, Meki Fritz Nawipa, hadir langsung memimpin kegiatan jalan sehat bersama masyarakat. Usai melepas peserta, gubernur meninjau sejumlah stan bazar UMKM, menyapa para pelaku usaha, serta melihat langsung berbagai produk lokal yang dipamerkan, mulai dari kuliner khas, kerajinan tangan, hingga hasil karya masyarakat asli Papua.
Kepala Biro Umum Setda Provinsi Papua Tengah sekaligus Ketua Panitia HUT ke-4 Papua Tengah, Vivian Andenita Gobay, S.IP., M.M., mengatakan seluruh rangkaian kegiatan telah dipersiapkan secara intensif selama dua pekan terakhir agar masyarakat dapat menikmati perayaan yang meriah sekaligus memberikan manfaat nyata bagi pelaku ekonomi lokal.


Menurutnya, peringatan HUT ke-4 Papua Tengah menjadi momentum penting untuk memperkuat kebersamaan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan UMKM.
“Rangkaian kegiatan diawali dengan nonton bareng final Piala Dunia pada 19 Juli 2026, kemudian dilanjutkan berbagai kegiatan masyarakat dan akan mencapai puncaknya pada Konser Rohani tanggal 22 Juli 2026. Kami berkomitmen mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui keterlibatan ratusan pelaku UMKM,” ujar Vivian.
Ia menjelaskan, ratusan pelaku UMKM, khususnya Orang Asli Papua, diberikan ruang untuk mempromosikan berbagai produk unggulan mereka kepada masyarakat luas. Produk yang dipamerkan meliputi makanan dan minuman khas daerah, kerajinan tangan, hasil olahan lokal, hingga berbagai produk kreatif lainnya yang diharapkan mampu meningkatkan daya saing serta pendapatan pelaku usaha.


Selain menghadirkan bazar UMKM, masyarakat juga disuguhkan beragam hiburan menarik. Penampilan musisi-musisi terbaik Papua menjadi salah satu daya tarik utama, disertai berbagai permainan interaktif, hiburan rakyat, hingga kesempatan memenangkan hadiah doorprize.
Tema JAMBU (Jangan Melupakan Budaya) menjadi semangat utama dalam penyelenggaraan HUT ke-4 Papua Tengah. Melalui tema tersebut, Pemerintah Provinsi Papua Tengah ingin menegaskan komitmen untuk menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya sebagai identitas daerah di tengah pesatnya pembangunan.


Sejumlah kegiatan bernuansa budaya pun menjadi bagian penting dalam perayaan, di antaranya lomba Tari Yospan yang melibatkan berbagai kelompok seni dari sejumlah daerah. Selain itu, masyarakat juga dapat memanfaatkan layanan pemeriksaan kesehatan gratis serta menyaksikan peluncuran Aplikasi Papua Bangkit sebagai bagian dari upaya pemerintah meningkatkan pelayanan kepada masyarakat melalui transformasi digital.
“Acara ini kami kemas secara besar-besaran. Kami menghadirkan musisi-musisi terbaik Papua, menyediakan berbagai doorprize menarik, dan melibatkan ratusan pelaku UMKM. Seluruh kegiatan ini gratis dan terbuka untuk seluruh masyarakat,” kata Vivian.


Ia mengajak seluruh masyarakat Papua Tengah untuk hadir bersama keluarga, kerabat, maupun sahabat guna memeriahkan peringatan hari jadi provinsi yang kini memasuki usia empat tahun.
“Mari hadir bersama keluarga, tetangga, dan sahabat. Dukung produk-produk anak daerah, nikmati seluruh rangkaian hiburan, dan rayakan HUT ke-4 Papua Tengah dengan penuh sukacita, persatuan, dan kebersamaan,” ajaknya.

Melalui penyelenggaraan pesta rakyat ini, Pemerintah Provinsi Papua Tengah berharap peringatan HUT ke-4 menjadi lebih dari sekadar perayaan tahunan. Momentum ini diharapkan mampu memperkuat rasa persaudaraan antarmasyarakat, menjaga kelestarian budaya Papua, sekaligus menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi daerah melalui pemberdayaan UMKM sebagai salah satu pilar utama pembangunan Papua Tengah. (Red)

Continue Reading

Trending