Nabire, Papua Tengah – enagoNews– Memasuki awal tahun 2026, harga telur ayam ras di Kabupaten Nabire masih mengalami kenaikan akibat keterbatasan produksi, baik dari peternak lokal maupun pasokan dari luar daerah. Kondisi ini berdampak langsung pada ketersediaan dan daya beli masyarakat.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Nabire, Viktor Yasor Sawo, menjelaskan bahwa sejak Januari 2026 sejumlah komoditas pangan strategis masih berada dalam kondisi terbatas, salah satunya telur ayam ras. Penurunan produksi menjadi faktor utama yang memicu kelangkaan dan kenaikan harga di pasaran.
“Produksi telur ayam ras saat ini memang menurun. Baik produksi lokal di Nabire maupun pasokan dari luar daerah seperti Surabaya juga mengalami penurunan. Hal ini otomatis berdampak pada harga di tingkat pedagang,” ujar Viktor.
Ia menyebutkan, di sejumlah kios dan toko, harga telur ayam ras saat ini berkisar antara Rp70 ribu hingga Rp80 ribu per rak, tergantung pada kualitas atau grade telur. Telur grade A bahkan terbilang sangat terbatas di pasaran.
Menurutnya, kondisi ini memaksa masyarakat untuk mulai melakukan penyesuaian konsumsi. Dinas Ketahanan Pangan mendorong adanya substitusi sumber protein, terutama bagi kebutuhan rumah tangga.
“Untuk konsumsi harian, masyarakat bisa mengganti protein dari telur dengan sumber protein lain seperti tahu dan tempe. Namun untuk kebutuhan tertentu, seperti pembuatan kue, telur tetap dibutuhkan sehingga harus menyesuaikan dengan ketersediaan yang ada,” jelasnya.
Dalam rangka menjaga stabilitas stok dan harga, Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Nabire terus melakukan pemantauan intensif terhadap pelaku usaha pangan, khususnya peternak ayam petelur lokal. Pemantauan dilakukan bersama instansi teknis terkait, terutama Dinas Peternakan, guna mendorong peningkatan produksi telur lokal.
Selain itu, pemantauan juga dilakukan terhadap pedagang dan pemasok telur di pasar-pasar sentral seperti Pasar Kalibobo, serta sejumlah toko yang mendatangkan telur langsung dari luar daerah, termasuk dari Pulau Jawa.
Advertisement
“Kami tetap berkoordinasi dengan para pelaku usaha pemasok telur dari luar Nabire agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi, meskipun dalam kondisi produksi yang menurun,” katanya.
Untuk tahun 2026, Dinas Ketahanan Pangan juga telah menyiapkan langkah konkret berupa pendampingan dan penguatan modal bagi salah satu peternak ayam petelur di Kampung Wanggar Makmur, Karadiri II. Peternak tersebut dinilai memiliki potensi produksi cukup besar dan menjadi salah satu penyangga telur lokal di Nabire.
“Kami akan memberikan penguatan modal serta dukungan fasilitas distribusi. Tujuannya agar ketika produksi meningkat, hasilnya dapat langsung dipasarkan, dan ketika produksi menurun, peternak masih bisa menjaga ketersediaan dengan mendatangkan telur dari luar,” jelas Viktor.
Langkah ini, lanjutnya, merupakan bagian dari upaya pengendalian inflasi daerah, khususnya pada komoditas pangan strategis seperti telur ayam ras.
Terkait keluhan peternak Orang Asli Papua (OAP) di Desa Kimi yang masih kekurangan modal untuk meningkatkan produksi, Viktor berharap adanya perhatian serius dari Dinas Peternakan. Menurutnya, penguatan sarana dan prasarana, pengadaan bibit ayam petelur (DOC), pakan, serta obat-obatan ternak sangat dibutuhkan agar kandang yang telah tersedia dapat dimanfaatkan secara maksimal.
“Kami berharap dukungan dari dana Otsus dapat diarahkan untuk memberdayakan peternak ayam petelur OAP. Jika produksi lokal bisa ditingkatkan, ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah dapat dikurangi,” ujarnya.
Ia menegaskan, tingginya biaya transportasi dari luar daerah turut memperberat harga telur di Nabire. Oleh karena itu, peningkatan produksi lokal menjadi solusi jangka panjang untuk menjaga ketersediaan dan stabilitas harga pangan di daerah.
“Dinas Ketahanan Pangan akan terus mengoordinasikan seluruh instansi teknis terkait agar bersama-sama meningkatkan produksi pangan, khususnya telur, demi memenuhi kebutuhan masyarakat Kabupaten Nabire,” tutupnya. (MUS)
PAPUA TENGAH, CENTRAL MEDIA – Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah melalui Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) menggelar On the Job Training (OJT) Program Kusta, Filariasis, Hepatitis, dan ISPA/Pneumonia di Kabupaten Deiyai pada Rabu (5/8/2026).
Pelatihan berbasis tempat kerja yang melibatkan pengelola program dari Dinas Kesehatan Kabupaten Deiyai serta seluruh Puskesmas setempat ini bertujuan untuk memperkuat kompetensi tenaga kesehatan dalam surveilans, penemuan kasus secara dini, tata laksana pasien, hingga perbaikan sistem pencatatan dan pelaporan pelayanan dasar.
Kegiatan teknis ini diselenggarakan sebagai langkah nyata mewujudkan visi dan misi Gubernur Papua Tengah dalam menghadirkan masyarakat yang sehat, mandiri, dan sejahtera melalui penguatan mutu sumber daya manusia kesehatan hingga ke tingkat distrik dan kampung.
Kepala Seksi P2PM Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah, Isak Waine, S.KM., M.Kes., menegaskan pentingnya pembinaan berkelanjutan bagi garda terdepan fasilitas kesehatan. “Melalui OJT ini, kami berkomitmen meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan agar mampu memberikan pelayanan yang profesional dan sesuai standar, utamanya dalam memperkuat deteksi dini serta menghapus stigma penyakit kusta di tengah masyarakat,” ujar Isak Waine.
Melalui sinergi yang makin kokoh antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, dan seluruh Puskesmas, kegiatan ini diharapkan dapat mempercepat upaya pengendalian penyakit menular dan berdampak langsung pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat di Kabupaten Deiyai secara berkelanjutan. (Red)
PAPUA TENGAH, CENTRAL MEDIA – Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Papua Tengah bersiap menggelar musyawarah daerah guna memilih ketua dan membentuk kepengurusan definitif sebelum tenggat waktu Agustus 2026 yang ditetapkan PSSI Pusat. Langkah ini diambil usai jajaran pengurus Asprov PSSI Papua Tengah menghadiri Kongres Biasa PSSI di Jakarta yang dibuka langsung oleh Ketua Umum PSSI Erick Thohir, Senin (3/8/2026).
Musda tersebut rencananya akan dihadiri langsung oleh PSSI Pusat di Nabire serta mengundang seluruh pengurus Asosiasi Kabupaten (Askab) dari delapan kabupaten se-Papua Tengah demi memastikan legitimasi tata kelola organisasi di daerah.
Ketua Harian Asprov PSSI Papua Tengah, yang juga merupakan Wakil Gubernur Papua Tengah, Deinas Geley, menegaskan bahwa konsolidasi ini krusial mengingat status kepengurusan daerah masih dipegang oleh pelaksana tugas (Plt) sejak 2022. Selain penataan struktur organisasi, Asprov Papua Tengah juga memfokuskan agenda pada pembinaan usia dini melalui rencana pembentukan Sekolah Sepak Bola (SSB) terstruktur serta persiapan kompetisi Liga 4 zona daerah.
“Papua adalah gudangnya pemain sepak bola, namun selama ini kita belum memiliki SSB yang terstruktur sesuai jenjang usia. Inilah mimpi besar kita: ke depan di Papua Tengah pun berdiri SSB khusus yang membina bakat sejak dini,” ujar Deinas Geley.
Restrukturisasi di tingkat daerah ini sejalan dengan kebijakan PSSI Pusat yang menjadwalkan pemilihan ketua Asprov secara serentak pada Oktober hingga November 2026, sebelum berlanjut ke Kongres Pemilihan Pengurus PSSI periode 2027–2031 pada Juli 2027. Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menekankan pentingnya transparansi dalam proses transisi kepemimpinan daerah tersebut untuk menyelaraskan program kerja nasional.
“Sesuai dengan statuta, kami sudah menyepakati bahwa pemilihan Ketua Asprov PSSI akan dilakukan secara terbuka,” tegas Erick usai memimpin kongres. (Red)
PAPUA TENGAH, CENTRAL MEDIA – Dalam upaya menyiapkan prajurit yang profesional, tangguh, dan siap mengemban tugas operasi pemeliharaan perdamaian dunia, Detasemen Zeni Tempur (Denzipur) 12/OHH melaksanakan kegiatan assessment proyeksi personel Satgas MONUSCO (United Nations Organization Stabilization Mission in the Democratic Republic of the Congo). Kegiatan assessment ini merupakan bagian dari tahapan seleksi yang dilaksanakan secara menyeluruh guna memastikan setiap personel yang diproyeksikan mengikuti penugasan internasional memiliki kemampuan, integritas, serta kesiapan yang sesuai dengan standar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Melalui proses seleksi yang objektif dan transparan, Denzipur 12/OHH berkomitmen menghadirkan prajurit terbaik untuk mendukung misi perdamaian dunia.
Dalam pelaksanaannya, assessment mencakup berbagai aspek penilaian, mulai dari kemampuan fisik, kesehatan jasmani dan rohani, kesiapan mental, pengetahuan umum, keterampilan teknis kecabangan zeni, kemampuan berbahasa Inggris, hingga kelengkapan administrasi. Seluruh tahapan tersebut menjadi indikator penting dalam menentukan kelayakan personel yang akan diusulkan mengikuti Satgas MONUSCO.
Selain menguji kemampuan individu, kegiatan ini juga menjadi sarana evaluasi untuk mengukur kesiapan prajurit dalam menghadapi tantangan penugasan di wilayah operasi yang memiliki karakteristik berbeda dengan penugasan di dalam negeri. Personel dituntut memiliki disiplin tinggi, kemampuan beradaptasi, kerja sama tim yang baik, serta profesionalisme dalam menjalankan setiap tugas yang diberikan.
Komandan Denzipur 12/OHH menegaskan bahwa setiap personel harus mengikuti seluruh rangkaian assessment dengan penuh kesungguhan dan rasa tanggung jawab. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kondisi kesehatan, meningkatkan kemampuan teknis maupun nonteknis, serta terus mengembangkan kompetensi agar mampu bersaing dan memenuhi standar yang ditetapkan PBB. “Setiap prajurit harus mempersiapkan diri secara maksimal, baik dari aspek fisik, mental, maupun kemampuan profesional. Penugasan dalam misi perdamaian dunia merupakan sebuah kehormatan sekaligus amanah negara yang harus dijalankan dengan penuh dedikasi, loyalitas, dan tanggung jawab,” tegasnya.
Indonesia sendiri dikenal sebagai salah satu negara yang secara konsisten berkontribusi dalam operasi pemeliharaan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kontribusi tersebut diwujudkan melalui pengiriman berbagai satuan, termasuk unsur Kompi Zeni (Kizi), yang memiliki peran strategis dalam pembangunan infrastruktur, perbaikan jalan dan jembatan, pembukaan akses mobilitas pasukan, pembangunan fasilitas pendukung, serta berbagai pekerjaan rekayasa teknik lainnya di daerah misi. Keikutsertaan prajurit TNI dalam Satgas MONUSCO tidak hanya menjadi bentuk komitmen Indonesia dalam menjaga perdamaian dan stabilitas dunia, tetapi juga menjadi ajang untuk menunjukkan profesionalisme, kemampuan, dan citra positif TNI di mata masyarakat internasional.
Melalui pelaksanaan assessment ini, Denzipur 12/OHH berharap dapat menghasilkan personel terbaik yang memiliki kompetensi, disiplin, integritas, dan semangat pengabdian tinggi sehingga mampu mengemban tugas dengan baik serta mengharumkan nama TNI dan Republik Indonesia dalam setiap pelaksanaan misi perdamaian di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa. (Red)