JAKARTA – enagoNews – Komisi IV DPR RI menggelar Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama DPR Provinsi Papua Tengah dan perwakilan masyarakat Kabupaten Mimika untuk mendengarkan secara langsung aspirasi terkait dugaan dampak pengelolaan tailing PT Freeport Indonesia terhadap lingkungan hidup, wilayah pesisir, alur sungai, serta kehidupan masyarakat adat dan nelayan di Kabupaten Mimika.
Rapat dipimpin Ketua Komisi IV DPR RI, Robert Joppy Kardinal, yang menegaskan bahwa forum tersebut menjadi bagian penting dalam menghimpun informasi langsung dari masyarakat sebagai bahan pengawasan DPR RI. ”Melalui forum ini kami berharap memperoleh gambaran yang utuh mengenai kondisi di lapangan, dampak yang dirasakan masyarakat, serta berbagai persoalan yang perlu dipahami dan ditindaklanjuti bersama,” ujar Robert.
DPR Papua Tengah membawa Aspirasi Langsung dari Masyarakat Wakil Ketua IV DPR Papua Tengah, John NR Gobai, hadir bersama sejumlah perwakilan masyarakat, di antaranya Sekretaris Lembaga Musyawarah Adat Suku Amungme Simon Magai, Ketua Lembaga Peduli Wilayah Mimika Timur Adolfina Kum, serta aktivis nelayan Mimika Natalia Yatanea, Simon Magal dari Lemasa Timika, Paulus Kemong dan Odizeus Beanal dari Intelektual asal Mimika. John mengatakan kehadiran masyarakat dalam forum tersebut bertujuan agar DPR RI dapat mendengar langsung kondisi yang dialami warga di wilayah terdampak. Menurutnya, berdasarkan laporan yang diterima DPR Papua Tengah, endapan tailing dari kawasan pegunungan hingga pesisir telah mencapai sekitar 25 kilometer dengan luas kurang lebih 23 ribu hektare. Ia mengingatkan, apabila tidak segera ditangani, timbunan tailing akan terus meningkat dan memperparah kerusakan lingkungan maupun akses transportasi masyarakat. ”Pendangkalan sungai membuat jalur transportasi masyarakat terganggu. Sungai bagi masyarakat pesisir bukan sekadar aliran air, tetapi menjadi sumber kehidupan,” katanya. John juga menyampaikan bahwa pendangkalan telah menyebabkan berbagai kecelakaan transportasi laut. Masyarakat terpaksa menggunakan jalur laut yang lebih dalam dan berisiko karena jalur sungai tidak lagi dapat dilalui secara normal. Usulkan Pengerukan Muara Hingga Wilayah Pertambangan Rakyat Dalam paparannya, John Gobai mengusulkan sejumlah langkah konkret kepada pemerintah pusat. Usulan tersebut antara lain: Pengerukan muara dan jalur pelayaran, khususnya di kawasan Pulau Tiga agar kapal perintis kembali dapat melayani masyarakat. Rehabilitasi lingkungan secara masif pada wilayah terdampak tailing. Penetapan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) di area tailing agar masyarakat adat memperoleh manfaat ekonomi. Penyediaan air bersih bagi masyarakat pesisir. Ia juga mengakui kontribusi PT Freeport Indonesia terhadap pendapatan negara maupun program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Namun menurutnya, pertumbuhan ekonomi tidak boleh mengabaikan penderitaan masyarakat adat yang terdampak. Kerusakan Mangrove dan Hilangnya Mata Pencaharian Nelayan
Ketua Lembaga Peduli Wilayah Mimika Timur, Adolfina Kum, menyampaikan bahwa sedikitnya 23 kampung mengalami dampak serius akibat pendangkalan jalur transportasi laut. Selain terganggunya akses transportasi, masyarakat juga menghadapi berbagai persoalan lain seperti: Kerusakan hutan mangrove. Menurunnya hasil tangkapan ikan. Kerusakan pulau-pulau keramat. Kematian sungai. Sulitnya memperoleh air bersih. Gangguan kesehatan masyarakat, termasuk penyakit kulit. Perempuan nelayan kehilangan mata pencaharian hingga beralih menjadi pekerja kasar. Ia juga menyoroti Sungai Yamaima yang selama ini menjadi jalur utama masyarakat namun kini telah direklamasi sehingga warga harus menempuh jalur laut yang lebih berbahaya. Menurut Adolfina, pemerintah memang telah membangun sejumlah fasilitas kesehatan, namun pelayanan belum maksimal karena keterbatasan tenaga kesehatan yang kompeten. Nelayan Keluhkan Penurunan Hasil Tangkapan
Perwakilan nelayan Mimika, Natalia Yatanea, mengatakan masyarakat pesisir telah lama menyampaikan tujuh tuntutan sejak tahun 2013 terkait dampak tailing. Namun hingga kini sebagian besar tuntutan tersebut belum terealisasi secara optimal. Natalia mengaku para mama nelayan kehilangan kawasan mangrove sebagai lokasi mencari ikan maupun kepiting. Ia juga menyebut kualitas hasil tangkapan ikan terus menurun sehingga sulit dipasarkan. Selain itu, keberadaan kapal-kapal nelayan dari luar Papua dinilai semakin memperberat kondisi masyarakat lokal yang ruang tangkapnya semakin terbatas. Lembaga Adat Minta Negara Lindungi Masyarakat Adat
Sekretaris Lembaga Adat Suku Amungme, Simon Magai, menyatakan persoalan yang dihadapi masyarakat adat di Mimika sangat kompleks. Menurutnya, keberadaan perusahaan telah memberikan kontribusi besar bagi negara, namun masyarakat adat masih hidup dalam berbagai keterbatasan. Ia meminta DPR RI memberikan perhatian serius terhadap perlindungan masyarakat adat, termasuk mendorong pengesahan Rancangan Undang-Undang Masyarakat Adat yang masih masuk Program Legislasi Nasional (Prolegnas). ”Kami berharap DPR RI turun langsung ke lapangan agar melihat kondisi masyarakat adat yang sesungguhnya,” ujarnya. Tokoh Pemuda Soroti Risiko Keselamatan Warga
Tokoh pemuda Mimika, Paulus Kemong, menuturkan persoalan pendangkalan sungai telah berlangsung cukup lama. Menurutnya, masyarakat kini terpaksa menggunakan jalur laut dengan gelombang mencapai dua hingga tiga meter karena sungai tidak lagi dapat dilalui. Kondisi tersebut dinilai sangat membahayakan keselamatan masyarakat pesisir.
Tokoh Intelektual Odizeus Beanal, mengajukan Enam Solusi
Perwakilan tokoh intelektual Mimika mengusulkan enam langkah strategis untuk mengatasi persoalan sedimentasi dan pendangkalan, yakni: Pengerukan (maintenance dredging) secara berkala pada muara sungai. Survei batimetri rutin menggunakan teknologi hidrografi. Pembentukan tim terpadu yang melibatkan kementerian terkait, pemerintah daerah, akademisi, tokoh adat, dan PT Freeport Indonesia. Penyediaan anggaran khusus untuk normalisasi alur sungai. Pelibatan masyarakat adat dan nelayan dalam kegiatan monitoring. Pemulihan lingkungan apabila kajian ilmiah membuktikan adanya kontribusi aktivitas industri terhadap sedimentasi. Menurutnya, persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan lingkungan hidup, tetapi juga menyangkut ekonomi, pendidikan, kesehatan, serta keselamatan masyarakat pesisir.
Komisi IV DPR RI Catat Seluruh Aspirasi Menutup rapat, Komisi IV DPR RI menyatakan menerima dan mencatat seluruh aspirasi yang disampaikan DPR Papua Tengah maupun masyarakat Kabupaten Mimika. Aspirasi tersebut meliputi dugaan dampak pengelolaan tailing PT Freeport Indonesia terhadap pendangkalan sungai dan pesisir, terganggunya akses transportasi masyarakat, penurunan kualitas lingkungan hidup, hingga dampak sosial dan ekonomi yang dirasakan masyarakat adat dan nelayan di Kabupaten Mimika. Masukan tersebut akan menjadi bahan pembahasan Komisi IV DPR RI dalam menjalankan fungsi pengawasan serta tindak lanjut bersama kementerian dan lembaga Indonesia. (Red)
PAPUA TENGAH, CENTRAL MEDIA – Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah melalui Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) menggelar On the Job Training (OJT) Program Kusta, Filariasis, Hepatitis, dan ISPA/Pneumonia di Kabupaten Deiyai pada Rabu (5/8/2026).
Pelatihan berbasis tempat kerja yang melibatkan pengelola program dari Dinas Kesehatan Kabupaten Deiyai serta seluruh Puskesmas setempat ini bertujuan untuk memperkuat kompetensi tenaga kesehatan dalam surveilans, penemuan kasus secara dini, tata laksana pasien, hingga perbaikan sistem pencatatan dan pelaporan pelayanan dasar.
Kegiatan teknis ini diselenggarakan sebagai langkah nyata mewujudkan visi dan misi Gubernur Papua Tengah dalam menghadirkan masyarakat yang sehat, mandiri, dan sejahtera melalui penguatan mutu sumber daya manusia kesehatan hingga ke tingkat distrik dan kampung.
Kepala Seksi P2PM Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah, Isak Waine, S.KM., M.Kes., menegaskan pentingnya pembinaan berkelanjutan bagi garda terdepan fasilitas kesehatan. “Melalui OJT ini, kami berkomitmen meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan agar mampu memberikan pelayanan yang profesional dan sesuai standar, utamanya dalam memperkuat deteksi dini serta menghapus stigma penyakit kusta di tengah masyarakat,” ujar Isak Waine.
Melalui sinergi yang makin kokoh antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, dan seluruh Puskesmas, kegiatan ini diharapkan dapat mempercepat upaya pengendalian penyakit menular dan berdampak langsung pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat di Kabupaten Deiyai secara berkelanjutan. (Red)
PAPUA TENGAH, CENTRAL MEDIA – Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Papua Tengah bersiap menggelar musyawarah daerah guna memilih ketua dan membentuk kepengurusan definitif sebelum tenggat waktu Agustus 2026 yang ditetapkan PSSI Pusat. Langkah ini diambil usai jajaran pengurus Asprov PSSI Papua Tengah menghadiri Kongres Biasa PSSI di Jakarta yang dibuka langsung oleh Ketua Umum PSSI Erick Thohir, Senin (3/8/2026).
Musda tersebut rencananya akan dihadiri langsung oleh PSSI Pusat di Nabire serta mengundang seluruh pengurus Asosiasi Kabupaten (Askab) dari delapan kabupaten se-Papua Tengah demi memastikan legitimasi tata kelola organisasi di daerah.
Ketua Harian Asprov PSSI Papua Tengah, yang juga merupakan Wakil Gubernur Papua Tengah, Deinas Geley, menegaskan bahwa konsolidasi ini krusial mengingat status kepengurusan daerah masih dipegang oleh pelaksana tugas (Plt) sejak 2022. Selain penataan struktur organisasi, Asprov Papua Tengah juga memfokuskan agenda pada pembinaan usia dini melalui rencana pembentukan Sekolah Sepak Bola (SSB) terstruktur serta persiapan kompetisi Liga 4 zona daerah.
“Papua adalah gudangnya pemain sepak bola, namun selama ini kita belum memiliki SSB yang terstruktur sesuai jenjang usia. Inilah mimpi besar kita: ke depan di Papua Tengah pun berdiri SSB khusus yang membina bakat sejak dini,” ujar Deinas Geley.
Restrukturisasi di tingkat daerah ini sejalan dengan kebijakan PSSI Pusat yang menjadwalkan pemilihan ketua Asprov secara serentak pada Oktober hingga November 2026, sebelum berlanjut ke Kongres Pemilihan Pengurus PSSI periode 2027–2031 pada Juli 2027. Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menekankan pentingnya transparansi dalam proses transisi kepemimpinan daerah tersebut untuk menyelaraskan program kerja nasional.
“Sesuai dengan statuta, kami sudah menyepakati bahwa pemilihan Ketua Asprov PSSI akan dilakukan secara terbuka,” tegas Erick usai memimpin kongres. (Red)
PAPUA TENGAH, CENTRAL MEDIA – Dalam upaya menyiapkan prajurit yang profesional, tangguh, dan siap mengemban tugas operasi pemeliharaan perdamaian dunia, Detasemen Zeni Tempur (Denzipur) 12/OHH melaksanakan kegiatan assessment proyeksi personel Satgas MONUSCO (United Nations Organization Stabilization Mission in the Democratic Republic of the Congo). Kegiatan assessment ini merupakan bagian dari tahapan seleksi yang dilaksanakan secara menyeluruh guna memastikan setiap personel yang diproyeksikan mengikuti penugasan internasional memiliki kemampuan, integritas, serta kesiapan yang sesuai dengan standar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Melalui proses seleksi yang objektif dan transparan, Denzipur 12/OHH berkomitmen menghadirkan prajurit terbaik untuk mendukung misi perdamaian dunia.
Dalam pelaksanaannya, assessment mencakup berbagai aspek penilaian, mulai dari kemampuan fisik, kesehatan jasmani dan rohani, kesiapan mental, pengetahuan umum, keterampilan teknis kecabangan zeni, kemampuan berbahasa Inggris, hingga kelengkapan administrasi. Seluruh tahapan tersebut menjadi indikator penting dalam menentukan kelayakan personel yang akan diusulkan mengikuti Satgas MONUSCO.
Selain menguji kemampuan individu, kegiatan ini juga menjadi sarana evaluasi untuk mengukur kesiapan prajurit dalam menghadapi tantangan penugasan di wilayah operasi yang memiliki karakteristik berbeda dengan penugasan di dalam negeri. Personel dituntut memiliki disiplin tinggi, kemampuan beradaptasi, kerja sama tim yang baik, serta profesionalisme dalam menjalankan setiap tugas yang diberikan.
Komandan Denzipur 12/OHH menegaskan bahwa setiap personel harus mengikuti seluruh rangkaian assessment dengan penuh kesungguhan dan rasa tanggung jawab. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kondisi kesehatan, meningkatkan kemampuan teknis maupun nonteknis, serta terus mengembangkan kompetensi agar mampu bersaing dan memenuhi standar yang ditetapkan PBB. “Setiap prajurit harus mempersiapkan diri secara maksimal, baik dari aspek fisik, mental, maupun kemampuan profesional. Penugasan dalam misi perdamaian dunia merupakan sebuah kehormatan sekaligus amanah negara yang harus dijalankan dengan penuh dedikasi, loyalitas, dan tanggung jawab,” tegasnya.
Indonesia sendiri dikenal sebagai salah satu negara yang secara konsisten berkontribusi dalam operasi pemeliharaan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kontribusi tersebut diwujudkan melalui pengiriman berbagai satuan, termasuk unsur Kompi Zeni (Kizi), yang memiliki peran strategis dalam pembangunan infrastruktur, perbaikan jalan dan jembatan, pembukaan akses mobilitas pasukan, pembangunan fasilitas pendukung, serta berbagai pekerjaan rekayasa teknik lainnya di daerah misi. Keikutsertaan prajurit TNI dalam Satgas MONUSCO tidak hanya menjadi bentuk komitmen Indonesia dalam menjaga perdamaian dan stabilitas dunia, tetapi juga menjadi ajang untuk menunjukkan profesionalisme, kemampuan, dan citra positif TNI di mata masyarakat internasional.
Melalui pelaksanaan assessment ini, Denzipur 12/OHH berharap dapat menghasilkan personel terbaik yang memiliki kompetensi, disiplin, integritas, dan semangat pengabdian tinggi sehingga mampu mengemban tugas dengan baik serta mengharumkan nama TNI dan Republik Indonesia dalam setiap pelaksanaan misi perdamaian di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa. (Red)