Di bawah naungan langit pesantren yang setiap subuh memantulkan gema ayat-ayat suci, aku duduk memeluk sepi— sepi yang dulu diwariskan para kiai sebagai tempat bercermin dan menimbang hati.
Namun kini, dari kejauhan itu datang kabar keruh, mengalir bersama angin seperti desis yang tak mau pergi. Kisruh di tubuh PBNU menggetarkan akar jam’iyah yang dulu ditanam dengan cinta dan air mata.
Aku mendengar tentang rapat yang patah, tentang keputusan yang digugat, tentang kursi yang diperebutkan seolah ia adalah takhta dunia— padahal para pendiri NU selalu berkata, “Jabatan itu amanah, bukan rebutan.”
Di antara tembok-tebok tebal kantor besar itu, ada suara yang saling meninggi, ada wajah yang saling menuding, ada hati yang mungkin mulai jauh dari pesan sederhana para masyayikh: ngrawat umat, bukan menguatkan kuasa.
Advertisement
Ego kini menjelma raksasa, melangkahi nilai-nilai tawadhu’ yang dulu menjadi napas setiap santri. Kepentingan tumbuh seperti bayang panjang yang menutupi cahaya hingga moral yang dibawa para ulama perlahan tampak kusam dan tergores.
Aku bertanya dalam hati: mengapa rumah besar ini yang dulu mempersatukan para kiai kampung dan menenangkan gejolak republik sekarang justru gaduh oleh perdebatan yang tak lagi mencerminkan kesejukan?
PBNU adalah kiblat moral— tempat rakyat kecil menaruh harap agar suara mereka didengar, agar akhlak tetap dijaga, agar tradisi tetap teguh di tengah gempuran zaman. Tetapi kini rumah itu terasa berguncang; sebagian penghuninya lupa bahwa NU dibangun bukan dengan kemewahan melainkan kesederhanaan dan keberkahan.
Aku, seorang anak pesantren yang tak punya apa-apa selain doa, hanya ingin berbisik pada para masyayikh masa kini: “Mohon, jangan biarkan amarah memecah kita. Jangan biarkan ambisi menenggelamkan teladan para pendiri. Ingatlah, dunia ini fana, tapi nama baik jam’iyah adalah amanah abadi.”
Di malam-malam panjang ketika para santri menekuni kitab kuning, aku melihat bayang para kiai tua yang dulu mengajar dengan tangan bergetar karena rendah hati, bukan karena takut kehilangan. Mereka menanam warisan bukan untuk diperebutkan tetapi untuk dijaga.
Andai mereka masih ada, mungkin mereka hanya tersenyum lirih melihat keramaian yang tak seharusnya. Mungkin mereka akan berkata lembut, “Jangan mencoreng NU demi dunia, sebab NU berdiri untuk akhirat.”
Wahai para pemangku amanah, kembalilah pada hening, pada musyawarah yang teduh, pada akhlak yang dulu menjadi mahkota.
Jika badai sedang pecah di langit PBNU, maka tugas kitalah mencari teduhnya. Jika suara menjadi gaduh, kitalah yang harus menghadirkan jernih. Dan jika rumah besar kita retak, maka perbaikilah dengan cinta sebelum retaknya menjadi runtuh.
Advertisement
Aku percaya, selama para santri masih sujud, selama doa para kiai masih terangkat, selama NU masih dipeluk umat, kisruh ini hanyalah ujian, bukan kehancuran.
Sebab di balik hiruk-pikuk dunia, ruh Nahdlatul Ulama tetap berdiri tegak di sisi kebenaran yang diwariskan para pendiri.
Di tengah kisruh yang tak kunjung reda, aku bertanya pada diriku sendiri— pada hati yang dibesarkan dalam asuhan kiai, pada jiwa yang tumbuh dari lantunan manaqib dan shalawat:
Bagaimana kami mengaku NU jika rumah besar ini dipenuhi riuh yang tak mencerminkan keteduhan para guru? Bagaimana kami menyandang nama itu dengan mantap jika teladan yang harusnya menuntun malah tersapu arus kepentingan yang saling menyeret?
Bagaimana kami bangga dengan NU jika wajah jam’iyah di ruang publik mulai keruh oleh perebutan suara, kursi, dan kuasa? Sedangkan dulu— kebanggaan itu lahir dari kesederhanaan para kiai yang memilih diam, daripada memperuncing hati umat.
Bagaimana kami meyakinkan dunia bahwa NU adalah Rahmatan lil ‘Alamīn, rahmat bagi seluruh semesta, jika di dalam tubuh sendiri kita masih kesulitan menjaga kesejukan? Rahmat bukan hanya ditulis di kitab, tetapi ditampakkan lewat akhlak yang mengalah, merangkul, dan menenangkan.
Bagaimana NU menjadi perekat bangsa jika sebagian panutannya terlihat bersilang pendapat tanpa keanggunan? Bukankah para pendiri mengajarkan bahwa perbedaan adalah ladang pahala, bukan medan perebutan? Bahwa bangsa ini harus dipeluk, bukan diperlihatkan retak dari rumah sendiri?
Lalu aku berbisik pada keheningan: Bagaimana kami dapat mantap meneladani, bila panutan berebut kekuasaan dalam bingkai materialisme? Padahal para kiai dulu menolak dunia, sedangkan hari ini dunia justru menghampiri pintu jam’iyah dengan senyum menggoda dan sebagian hati tergelincir tanpa sadar.
Advertisement
Namun meski hati ini perih, aku tetap percaya— NU lebih besar dari kisruh, lebih tua dari riuh, lebih mulia dari sekadar perebutan kursi.
Sebab akar NU adalah doa, batangnya adalah tasawuf, rantingnya adalah ilmu, daunnya adalah akhlak, dan buahnya adalah keteduhan bagi negeri.
Jika kini badai sedang menguji, maka bukan berarti pohon ini tumbang. Kita hanya harus kembali menguatkan akar: mengembalikan NU pada makna, bukan pada kemewahan; pada pelayanan, bukan pada kebesaran nama; pada akhlak, bukan pada hiruk-pikuk kuasa.
Dan aku, anak kecil dari serambi pesantren, masih percaya NU akan kembali jernih— sejernih niat para pendiri yang membangunnya dengan air mata, bukan dengan kepentingan.
PAPUA TENGAH, CENTRAL MEDIA – Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah melalui Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) menggelar On the Job Training (OJT) Program Kusta, Filariasis, Hepatitis, dan ISPA/Pneumonia di Kabupaten Deiyai pada Rabu (5/8/2026).
Pelatihan berbasis tempat kerja yang melibatkan pengelola program dari Dinas Kesehatan Kabupaten Deiyai serta seluruh Puskesmas setempat ini bertujuan untuk memperkuat kompetensi tenaga kesehatan dalam surveilans, penemuan kasus secara dini, tata laksana pasien, hingga perbaikan sistem pencatatan dan pelaporan pelayanan dasar.
Kegiatan teknis ini diselenggarakan sebagai langkah nyata mewujudkan visi dan misi Gubernur Papua Tengah dalam menghadirkan masyarakat yang sehat, mandiri, dan sejahtera melalui penguatan mutu sumber daya manusia kesehatan hingga ke tingkat distrik dan kampung.
Kepala Seksi P2PM Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah, Isak Waine, S.KM., M.Kes., menegaskan pentingnya pembinaan berkelanjutan bagi garda terdepan fasilitas kesehatan. “Melalui OJT ini, kami berkomitmen meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan agar mampu memberikan pelayanan yang profesional dan sesuai standar, utamanya dalam memperkuat deteksi dini serta menghapus stigma penyakit kusta di tengah masyarakat,” ujar Isak Waine.
Melalui sinergi yang makin kokoh antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, dan seluruh Puskesmas, kegiatan ini diharapkan dapat mempercepat upaya pengendalian penyakit menular dan berdampak langsung pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat di Kabupaten Deiyai secara berkelanjutan. (Red)
PAPUA TENGAH, CENTRAL MEDIA – Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Papua Tengah bersiap menggelar musyawarah daerah guna memilih ketua dan membentuk kepengurusan definitif sebelum tenggat waktu Agustus 2026 yang ditetapkan PSSI Pusat. Langkah ini diambil usai jajaran pengurus Asprov PSSI Papua Tengah menghadiri Kongres Biasa PSSI di Jakarta yang dibuka langsung oleh Ketua Umum PSSI Erick Thohir, Senin (3/8/2026).
Musda tersebut rencananya akan dihadiri langsung oleh PSSI Pusat di Nabire serta mengundang seluruh pengurus Asosiasi Kabupaten (Askab) dari delapan kabupaten se-Papua Tengah demi memastikan legitimasi tata kelola organisasi di daerah.
Ketua Harian Asprov PSSI Papua Tengah, yang juga merupakan Wakil Gubernur Papua Tengah, Deinas Geley, menegaskan bahwa konsolidasi ini krusial mengingat status kepengurusan daerah masih dipegang oleh pelaksana tugas (Plt) sejak 2022. Selain penataan struktur organisasi, Asprov Papua Tengah juga memfokuskan agenda pada pembinaan usia dini melalui rencana pembentukan Sekolah Sepak Bola (SSB) terstruktur serta persiapan kompetisi Liga 4 zona daerah.
“Papua adalah gudangnya pemain sepak bola, namun selama ini kita belum memiliki SSB yang terstruktur sesuai jenjang usia. Inilah mimpi besar kita: ke depan di Papua Tengah pun berdiri SSB khusus yang membina bakat sejak dini,” ujar Deinas Geley.
Restrukturisasi di tingkat daerah ini sejalan dengan kebijakan PSSI Pusat yang menjadwalkan pemilihan ketua Asprov secara serentak pada Oktober hingga November 2026, sebelum berlanjut ke Kongres Pemilihan Pengurus PSSI periode 2027–2031 pada Juli 2027. Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menekankan pentingnya transparansi dalam proses transisi kepemimpinan daerah tersebut untuk menyelaraskan program kerja nasional.
“Sesuai dengan statuta, kami sudah menyepakati bahwa pemilihan Ketua Asprov PSSI akan dilakukan secara terbuka,” tegas Erick usai memimpin kongres. (Red)
PAPUA TENGAH, CENTRAL MEDIA – Dalam upaya menyiapkan prajurit yang profesional, tangguh, dan siap mengemban tugas operasi pemeliharaan perdamaian dunia, Detasemen Zeni Tempur (Denzipur) 12/OHH melaksanakan kegiatan assessment proyeksi personel Satgas MONUSCO (United Nations Organization Stabilization Mission in the Democratic Republic of the Congo). Kegiatan assessment ini merupakan bagian dari tahapan seleksi yang dilaksanakan secara menyeluruh guna memastikan setiap personel yang diproyeksikan mengikuti penugasan internasional memiliki kemampuan, integritas, serta kesiapan yang sesuai dengan standar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Melalui proses seleksi yang objektif dan transparan, Denzipur 12/OHH berkomitmen menghadirkan prajurit terbaik untuk mendukung misi perdamaian dunia.
Dalam pelaksanaannya, assessment mencakup berbagai aspek penilaian, mulai dari kemampuan fisik, kesehatan jasmani dan rohani, kesiapan mental, pengetahuan umum, keterampilan teknis kecabangan zeni, kemampuan berbahasa Inggris, hingga kelengkapan administrasi. Seluruh tahapan tersebut menjadi indikator penting dalam menentukan kelayakan personel yang akan diusulkan mengikuti Satgas MONUSCO.
Selain menguji kemampuan individu, kegiatan ini juga menjadi sarana evaluasi untuk mengukur kesiapan prajurit dalam menghadapi tantangan penugasan di wilayah operasi yang memiliki karakteristik berbeda dengan penugasan di dalam negeri. Personel dituntut memiliki disiplin tinggi, kemampuan beradaptasi, kerja sama tim yang baik, serta profesionalisme dalam menjalankan setiap tugas yang diberikan.
Komandan Denzipur 12/OHH menegaskan bahwa setiap personel harus mengikuti seluruh rangkaian assessment dengan penuh kesungguhan dan rasa tanggung jawab. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kondisi kesehatan, meningkatkan kemampuan teknis maupun nonteknis, serta terus mengembangkan kompetensi agar mampu bersaing dan memenuhi standar yang ditetapkan PBB. “Setiap prajurit harus mempersiapkan diri secara maksimal, baik dari aspek fisik, mental, maupun kemampuan profesional. Penugasan dalam misi perdamaian dunia merupakan sebuah kehormatan sekaligus amanah negara yang harus dijalankan dengan penuh dedikasi, loyalitas, dan tanggung jawab,” tegasnya.
Indonesia sendiri dikenal sebagai salah satu negara yang secara konsisten berkontribusi dalam operasi pemeliharaan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kontribusi tersebut diwujudkan melalui pengiriman berbagai satuan, termasuk unsur Kompi Zeni (Kizi), yang memiliki peran strategis dalam pembangunan infrastruktur, perbaikan jalan dan jembatan, pembukaan akses mobilitas pasukan, pembangunan fasilitas pendukung, serta berbagai pekerjaan rekayasa teknik lainnya di daerah misi. Keikutsertaan prajurit TNI dalam Satgas MONUSCO tidak hanya menjadi bentuk komitmen Indonesia dalam menjaga perdamaian dan stabilitas dunia, tetapi juga menjadi ajang untuk menunjukkan profesionalisme, kemampuan, dan citra positif TNI di mata masyarakat internasional.
Melalui pelaksanaan assessment ini, Denzipur 12/OHH berharap dapat menghasilkan personel terbaik yang memiliki kompetensi, disiplin, integritas, dan semangat pengabdian tinggi sehingga mampu mengemban tugas dengan baik serta mengharumkan nama TNI dan Republik Indonesia dalam setiap pelaksanaan misi perdamaian di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa. (Red)