PAPUA TENGAH, CENTRAL MEDIA NEWS – Sebanyak 117 wartawan Asli Papua dan 32 Non-Papua hadir dalam Festival Media se-Tanah Papua resmi dibuka pada Selasa (13/1/2026) di Halaman Kantor Gubernur Papua Tengah, Bandara Lama Nabire. Festival yang untuk pertama kalinya digelar di Tanah Papua ini menjadi momentum bersejarah bagi dunia pers Papua karena mempertemukan ratusan jurnalis dari enam provinsi di Papua dalam satu forum bersama. Pembukaan Festival Media se-Tanah Papua dilakukan oleh Gubernur Papua Tengah, Meki F. Nawipa, yang diwakili Asisten II Bidang Pemerintahan dan Pembangunan, H. Tumiran, S.Sos., M.Si. Prosesi pembukaan ditandai dengan pemukulan tifa bersama Ketua Asosiasi Wartawan Papua (AWP), Ketua Panitia Festival Media se-Tanah Papua, Bupati Intan Jaya, serta sejumlah wartawan senior Papua. Dalam laporan panitia, Ketua Panitia Festival Media se-Tanah Papua, Albert You, menyampaikan penghormatan kepada jajaran pimpinan pemerintah daerah, Forkopimda, tokoh pers, serta seluruh pihak yang telah memberikan dukungan sehingga festival perdana ini dapat terselenggara dengan baik. Albert You juga menyampaikan penghormatan kepada para pendiri Asosiasi Wartawan Papua (AWP), para wartawan senior Papua, serta tokoh-tokoh pers yang telah meletakkan fondasi dunia jurnalistik Papua sejak puluhan tahun lalu. Ia menegaskan bahwa kehadiran para senior pers Papua menjadi sumber inspirasi bagi generasi jurnalis muda saat ini.
Dalam laporannya, Albert You menyampaikan bahwa peserta Festival Media se-Tanah Papua berasal dari seluruh enam provinsi di Tanah Papua. Jumlah jurnalis Orang Asli Papua (OAP) yang hadir tercatat sebanyak 114 orang, sementara jurnalis non-OAP berjumlah 36 orang. Selain jurnalis, festival ini juga diikuti oleh perwakilan mahasiswa, pelajar, guru, serta masyarakat umum yang memiliki minat terhadap dunia literasi dan jurnalistik. “Festival media ini bertujuan untuk membekali jurnalis Papua dengan keterampilan liputan investigasi, keamanan digital, pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI), serta penguatan jurnalisme damai,” ujar Albert You. Ia menjelaskan, rangkaian kegiatan Festival Media se-Tanah Papua meliputi pelatihan jurnalistik dan investigasi, penguatan kapasitas jurnalisme damai, serta talk show yang berfokus pada peran media dalam pendidikan dan kesehatan sebagai bagian dari pembangunan di Tanah Papua. Selain itu, terdapat pameran foto dan video hasil karya jurnalistik para wartawan Papua yang dipamerkan kepada publik.
“Ini adalah karya kami sendiri, karya jurnalis Papua. Kami ingin menunjukkan bahwa wartawan Papua mampu menghasilkan karya jurnalistik yang berkualitas,” ungkapnya. Puncak kegiatan festival akan ditutup dengan Malam Penganugerahan Papua Journalist Association (PJA) 2026 sebagai bentuk apresiasi terhadap dedikasi dan kontribusi insan pers Papua. Festival Media se-Tanah Papua dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, mulai Selasa hingga Kamis (15/1/2026), dengan pengamanan dari Polda Papua Tengah dan Polres Nabire. Albert You menegaskan bahwa Papua Tengah menjadi provinsi pertama yang merintis dan melaksanakan Festival Media se-Tanah Papua. Menurutnya, festival ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi merupakan upaya mewariskan nilai-nilai jurnalistik kepada generasi muda Papua di masa depan. “Papua Tengah menjadi yang pertama. Ini sejarah dan akan kita wariskan kepada anak cucu di seluruh Tanah Papua,” tegasnya. Sementara itu, Ketua Asosiasi Wartawan Papua (AWP) Elisa Kenyap dalam sambutannya menyampaikan bahwa Festival Media se-Tanah Papua merupakan forum penting yang mempertemukan jurnalis, pemerintah, dan masyarakat dalam semangat kolaborasi untuk membangun Papua yang lebih baik. Ia menyampaikan terima kasih kepada Gubernur Papua Tengah beserta jajaran Pemerintah Provinsi Papua Tengah atas dukungan penuh terhadap pelaksanaan festival yang berlangsung selama tiga hari di Nabire. Apresiasi juga disampaikan kepada PLN, Polda Papua Tengah, Polres Nabire, serta seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya Festival Media Papua pertama ini. “Festival media ini adalah forum strategis yang mempertemukan seluruh jurnalis Papua, pemerintah, dan masyarakat dalam semangat kolaborasi dan pembangunan Papua yang lebih baik,” ujarnya.
Ketua AWP menegaskan bahwa peran media di Papua memiliki karakter dan tantangan yang tidak ringan. Media tidak hanya berfungsi menyampaikan informasi, tetapi juga menjaga kepercayaan publik, mengelola keberagaman, serta menjadi jembatan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat. “Dalam konteks Papua yang majemuk secara budaya, geografis, dan sosial, insan pers dituntut untuk bekerja secara profesional, beretika, serta sensitif terhadap nilai-nilai lokal,” katanya. Menurutnya, Festival Media Papua pertama ini dirancang sebagai ruang peningkatan kapasitas dan literasi media, penguatan media lokal dan media komunitas, serta sarana pertukaran gagasan antara media, pemerintah, dan masyarakat. Festival ini juga menjadi sarana untuk meneguhkan komitmen bersama terhadap jurnalisme yang bertanggung jawab. Ketua AWP menekankan pentingnya sinergi antara media dan Forkopimda dalam mencegah disinformasi, merawat persatuan, serta menghadirkan narasi pembangunan Papua yang objektif, manusiawi, dan berimbang. “Media yang kuat dan independen akan menjadi aset penting bagi pemerintah daerah dalam menyampaikan kebijakan secara transparan dan akuntabel kepada masyarakat,” tegasnya.
Melalui momentum Festival Media se-Tanah Papua, Ketua AWP mengajak seluruh insan pers Papua untuk terus menjunjung tinggi kode etik jurnalistik dan profesionalisme, mengedepankan kepentingan publik dan nilai-nilai kemanusiaan, mengangkat potensi budaya Papua secara bermartabat, serta menjadi bagian dari solusi bagi masa depan Papua yang lebih baik.
Ia berharap Festival Media Papua pertama yang digelar di Papua Tengah, khususnya di Nabire, dapat menjadi tonggak awal penguatan ekosistem pers Papua yang berkualitas, profesional, dan berdaya saing di tingkat nasional maupun internasional. (RED)
PAPUA TENGAH, CENTRAL MEDIA – Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah melalui Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) menggelar On the Job Training (OJT) Program Kusta, Filariasis, Hepatitis, dan ISPA/Pneumonia di Kabupaten Deiyai pada Rabu (5/8/2026).
Pelatihan berbasis tempat kerja yang melibatkan pengelola program dari Dinas Kesehatan Kabupaten Deiyai serta seluruh Puskesmas setempat ini bertujuan untuk memperkuat kompetensi tenaga kesehatan dalam surveilans, penemuan kasus secara dini, tata laksana pasien, hingga perbaikan sistem pencatatan dan pelaporan pelayanan dasar.
Kegiatan teknis ini diselenggarakan sebagai langkah nyata mewujudkan visi dan misi Gubernur Papua Tengah dalam menghadirkan masyarakat yang sehat, mandiri, dan sejahtera melalui penguatan mutu sumber daya manusia kesehatan hingga ke tingkat distrik dan kampung.
Kepala Seksi P2PM Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah, Isak Waine, S.KM., M.Kes., menegaskan pentingnya pembinaan berkelanjutan bagi garda terdepan fasilitas kesehatan. “Melalui OJT ini, kami berkomitmen meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan agar mampu memberikan pelayanan yang profesional dan sesuai standar, utamanya dalam memperkuat deteksi dini serta menghapus stigma penyakit kusta di tengah masyarakat,” ujar Isak Waine.
Melalui sinergi yang makin kokoh antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, dan seluruh Puskesmas, kegiatan ini diharapkan dapat mempercepat upaya pengendalian penyakit menular dan berdampak langsung pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat di Kabupaten Deiyai secara berkelanjutan. (Red)
PAPUA TENGAH, CENTRAL MEDIA – Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Papua Tengah bersiap menggelar musyawarah daerah guna memilih ketua dan membentuk kepengurusan definitif sebelum tenggat waktu Agustus 2026 yang ditetapkan PSSI Pusat. Langkah ini diambil usai jajaran pengurus Asprov PSSI Papua Tengah menghadiri Kongres Biasa PSSI di Jakarta yang dibuka langsung oleh Ketua Umum PSSI Erick Thohir, Senin (3/8/2026).
Musda tersebut rencananya akan dihadiri langsung oleh PSSI Pusat di Nabire serta mengundang seluruh pengurus Asosiasi Kabupaten (Askab) dari delapan kabupaten se-Papua Tengah demi memastikan legitimasi tata kelola organisasi di daerah.
Ketua Harian Asprov PSSI Papua Tengah, yang juga merupakan Wakil Gubernur Papua Tengah, Deinas Geley, menegaskan bahwa konsolidasi ini krusial mengingat status kepengurusan daerah masih dipegang oleh pelaksana tugas (Plt) sejak 2022. Selain penataan struktur organisasi, Asprov Papua Tengah juga memfokuskan agenda pada pembinaan usia dini melalui rencana pembentukan Sekolah Sepak Bola (SSB) terstruktur serta persiapan kompetisi Liga 4 zona daerah.
“Papua adalah gudangnya pemain sepak bola, namun selama ini kita belum memiliki SSB yang terstruktur sesuai jenjang usia. Inilah mimpi besar kita: ke depan di Papua Tengah pun berdiri SSB khusus yang membina bakat sejak dini,” ujar Deinas Geley.
Restrukturisasi di tingkat daerah ini sejalan dengan kebijakan PSSI Pusat yang menjadwalkan pemilihan ketua Asprov secara serentak pada Oktober hingga November 2026, sebelum berlanjut ke Kongres Pemilihan Pengurus PSSI periode 2027–2031 pada Juli 2027. Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menekankan pentingnya transparansi dalam proses transisi kepemimpinan daerah tersebut untuk menyelaraskan program kerja nasional.
“Sesuai dengan statuta, kami sudah menyepakati bahwa pemilihan Ketua Asprov PSSI akan dilakukan secara terbuka,” tegas Erick usai memimpin kongres. (Red)
PAPUA TENGAH, CENTRAL MEDIA – Dalam upaya menyiapkan prajurit yang profesional, tangguh, dan siap mengemban tugas operasi pemeliharaan perdamaian dunia, Detasemen Zeni Tempur (Denzipur) 12/OHH melaksanakan kegiatan assessment proyeksi personel Satgas MONUSCO (United Nations Organization Stabilization Mission in the Democratic Republic of the Congo). Kegiatan assessment ini merupakan bagian dari tahapan seleksi yang dilaksanakan secara menyeluruh guna memastikan setiap personel yang diproyeksikan mengikuti penugasan internasional memiliki kemampuan, integritas, serta kesiapan yang sesuai dengan standar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Melalui proses seleksi yang objektif dan transparan, Denzipur 12/OHH berkomitmen menghadirkan prajurit terbaik untuk mendukung misi perdamaian dunia.
Dalam pelaksanaannya, assessment mencakup berbagai aspek penilaian, mulai dari kemampuan fisik, kesehatan jasmani dan rohani, kesiapan mental, pengetahuan umum, keterampilan teknis kecabangan zeni, kemampuan berbahasa Inggris, hingga kelengkapan administrasi. Seluruh tahapan tersebut menjadi indikator penting dalam menentukan kelayakan personel yang akan diusulkan mengikuti Satgas MONUSCO.
Selain menguji kemampuan individu, kegiatan ini juga menjadi sarana evaluasi untuk mengukur kesiapan prajurit dalam menghadapi tantangan penugasan di wilayah operasi yang memiliki karakteristik berbeda dengan penugasan di dalam negeri. Personel dituntut memiliki disiplin tinggi, kemampuan beradaptasi, kerja sama tim yang baik, serta profesionalisme dalam menjalankan setiap tugas yang diberikan.
Komandan Denzipur 12/OHH menegaskan bahwa setiap personel harus mengikuti seluruh rangkaian assessment dengan penuh kesungguhan dan rasa tanggung jawab. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kondisi kesehatan, meningkatkan kemampuan teknis maupun nonteknis, serta terus mengembangkan kompetensi agar mampu bersaing dan memenuhi standar yang ditetapkan PBB. “Setiap prajurit harus mempersiapkan diri secara maksimal, baik dari aspek fisik, mental, maupun kemampuan profesional. Penugasan dalam misi perdamaian dunia merupakan sebuah kehormatan sekaligus amanah negara yang harus dijalankan dengan penuh dedikasi, loyalitas, dan tanggung jawab,” tegasnya.
Indonesia sendiri dikenal sebagai salah satu negara yang secara konsisten berkontribusi dalam operasi pemeliharaan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kontribusi tersebut diwujudkan melalui pengiriman berbagai satuan, termasuk unsur Kompi Zeni (Kizi), yang memiliki peran strategis dalam pembangunan infrastruktur, perbaikan jalan dan jembatan, pembukaan akses mobilitas pasukan, pembangunan fasilitas pendukung, serta berbagai pekerjaan rekayasa teknik lainnya di daerah misi. Keikutsertaan prajurit TNI dalam Satgas MONUSCO tidak hanya menjadi bentuk komitmen Indonesia dalam menjaga perdamaian dan stabilitas dunia, tetapi juga menjadi ajang untuk menunjukkan profesionalisme, kemampuan, dan citra positif TNI di mata masyarakat internasional.
Melalui pelaksanaan assessment ini, Denzipur 12/OHH berharap dapat menghasilkan personel terbaik yang memiliki kompetensi, disiplin, integritas, dan semangat pengabdian tinggi sehingga mampu mengemban tugas dengan baik serta mengharumkan nama TNI dan Republik Indonesia dalam setiap pelaksanaan misi perdamaian di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa. (Red)