NABIRE, Papua Tengah | News.papuatengah.info – Pencurian kabel jaringan listrik yang berulang kali terjadi di Kabupaten Nabire menjadi kendala dalam pembangunan infrastruktur kelistrikan di Papua Tengah. Kasus serupa dilaporkan terjadi di sejumlah lokasi, termasuk pada proyek yang baru selesai dikerjakan. Kondisi ini menimbulkan kerugian material sekaligus berpotensi menghambat upaya pemerintah memperluas akses listrik bagi masyarakat.
Salah satu kasus terbaru terjadi di wilayah Waroki, Nabire. PT Jingjing Papua Persada selaku kontraktor melaporkan kehilangan kabel jaringan listrik ke Polres Nabire pada Rabu (21/10/2026). Kerugian akibat kehilangan kabel tembaga tersebut diperkirakan mencapai Rp40 juta.
Charles Silitonga dari PT Jingjing Papua Persada mengatakan, kabel yang hilang merupakan kabel tembaga pada bagian aksesori transformator (trafo). Padahal, kabel tersebut telah dipasang sebagai bagian dari pekerjaan jaringan listrik yang dilaksanakan perusahaannya.
“Kabel yang hilang merupakan kabel tembaga pada bagian aksesori trafo. Kerugian kami diperkirakan mencapai sekitar Rp40 juta. Karena itu, kami mengambil inisiatif untuk melaporkan kejadian ini ke Polres Nabire agar dapat ditindaklanjuti,” kata Charles.
Ia menjelaskan, pekerjaan proyek tersebut mulai dilaksanakan pada 14 September. Saat dilakukan pengecekan di lokasi, pihaknya mendapati kabel yang telah terpasang sudah hilang. Bagi PT Jingjing Papua Persada, kejadian ini merupakan pencurian kedua setelah kasus serupa dialami sekitar dua tahun lalu.
Sementara itu, Tim Leader Perencanaan Listrik Desa PLN UP2K Papua Tengah, Viktori Bunga Bongga, mengungkapkan bahwa pencurian kabel telah berulang kali terjadi di wilayah Nabire. Menurutnya, kejadian tersebut kerap menyasar proyek jaringan listrik yang masih baru, bahkan ketika instalasi hendak dioperasikan.
Kabel yang hilang meliputi kabel grounding dan kabel NYY, yang merupakan bagian penting dalam instalasi kelistrikan. Di sejumlah lokasi pekerjaan, kehilangan kabel dilaporkan terjadi dalam jumlah besar sehingga mengganggu pelaksanaan pekerjaan PLN.
“Bisa dikatakan, hampir setiap pekerjaan selalu ada saja barang yang hilang. Di beberapa lokasi pekerjaan, kabel yang sudah terpasang bahkan hampir seluruhnya hilang,” ujar Viktori.
Ia menegaskan, pencurian tersebut menjadi hambatan dalam pelaksanaan program perluasan jaringan listrik, terutama untuk menjangkau desa, dusun, serta wilayah permukiman yang belum mendapatkan akses listrik.
Pembangunan jaringan listrik desa merupakan bagian dari upaya mendukung Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya pemerataan pembangunan dan perluasan akses energi. Di tingkat daerah, program tersebut juga sejalan dengan visi Gubernur Papua Tengah, Meki Fritz Nawipa, yakni Papua Tengah Terang.
Melalui pembangunan jaringan baru, PLN berupaya menghadirkan listrik bagi masyarakat yang selama ini belum menikmati layanan kelistrikan. Namun, pencurian kabel berpotensi membuat infrastruktur yang telah dibangun tidak dapat dimanfaatkan secara optimal dan menambah beban biaya pekerjaan.
“Kami mendukung program pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah daerah untuk melistriki wilayah yang belum mendapatkan akses listrik. Namun, pencurian seperti ini menjadi kendala serius dan menghambat pembangunan di bidang kelistrikan,” kata Viktori.
Ia berharap aparat keamanan memberikan perhatian serius dan mengusut tuntas kasus pencurian kabel yang terjadi di sejumlah lokasi di Nabire.
“Kami berharap pihak keamanan dapat mengusut tuntas kasus ini karena kerugiannya tidak sedikit. Pencurian juga tidak hanya terjadi di satu tempat, tetapi sudah menyebar ke beberapa lokasi,” ujarnya.
Penanganan kasus secara serius diharapkan dapat mencegah pencurian berulang, melindungi infrastruktur kelistrikan, serta memastikan program pemerataan akses listrik dan visi Papua Tengah Terang dapat berjalan sesuai tujuan demi kepentingan masyarakat. (*)