
NABIRE- Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Provinsi Papua Tengan Teken Kerjasama atau MoU (Memorandum off Understanding dengan Dewan Kesejahteraan Masjid (DKM) Provinsi Papua Tengah, Rabu (8/8) di Sekretariat DKM Papua Tengah Komplek Masjid Agung Al-Falah Nabire.
Penandatanganan MoU (Nota Kesepahaman) ditandatangani oleh Ketua KPA Provinsi Papua Tengah Freny Anouw dan Sekretaris Umum DKM Provinsi Papua Tengah Ir.Wahyu Budi Sentosa.
Dinyatakan Ketua KPA Freny Anouw, MoU memiliki arti sangat penting mengingat DKM merupakan organisasi yang menaungi Da’i (Penceramah Agama) dan Khotib Jum’at.
“Ini MoU kedua setelah kemarin kami menandatangani MoU dengan Gereja Kemah Injili Indonesia (GKII) Papua Tengah,” ungkapnya.
“MoU ini sangat penting, karena kami tidak mungkin mampu sendiri dalam mensosialisasikan pencegahan HIV-Aids.Masjid, Gereja, Pure, Wihara yang langsung bersentuhan dengan umat sehingga mudah untuk menyampaikan tentang bahaya HIV-Aids, menghidari gaya hidup bebas apalagi dalam persoalan hubungan lain jenis, bagaimana setiap agama melarang sex bebas, memberikan masukan betapa bahaya dan ngerinya Virus HIV,,mengajak umat untuk hidup sesuai nilai dan norma agama,” tuturnya.
Bak gayung bersambut, Sekum DKM Papua Tengah Wahyu Budi Sentosa menyambut baik program KPA Papua Tengah dalam mencegah dan menanggulangi HIV-Aids khususnya di wilayah Papua Tengah.
Wahyu menyatakan bahwa pihak DKM akan menyampaikan kepada setiap khotib agar dalam penyampaian khutbahnya disisipkan tentang HIV-Aids.
“Beberapa waktu yang akan datang kami DKM Papua Tengah akan mengadakan pelatihan khotib.Kami ajan sampaikan diacara ini nantinya tentang penyakit masyarakat ini,” ujarnya.
Wahyu bahkan meminta kepada Ketua KPA Papua Tengah agar juga melakukan MoU dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Papua Tengah.
“Kami dari DKM menyambut baik dengan kerjasama dan MoU ini.Kami berharap kerjasama ini terus berlanjut karena memang sangat penting memberikan pemahaman terhadap umat tentang bahaya HIV-Aids nk melalui sosialisasi utamanya penyampaian lewat khutbah di masjid-masjid,” tutur Wahyu Budi.
HIV-AIDS,Tantangan Besar Bersama
Dikatakan Freny Anouw, saat ini Papua Tengah khususnya Nabire tengah mendapat tantangan besar yang sedang melanda Papua Tengah berupa penyebaran HIV-AIDS yang telah menjangkit 23.861 orang di Papua Tengah dan Nabire diurutan pertama dengan angka diatas 10.000 orang.
“Ini tantangan besar bersama.Ini soal kemanusiaan dan kita,tidak bisa berpangku tangan membiarkan virus ini terus menyebar mengancam nyawa sesama kita,” ungkapnya.
“Kita harus,berusaha dan terus berupaya untuk memutus mata rante virus ini,” tegasnya.
“Sekali lagi ini soal dan untuk kemanusiaan. Hari ini orang Papua sudah terinveksi HIV dan angkanya sangat tinggi dan seluruh Indonesia yang paling tinggi di Papua Tengah. Aangkanya sudah mencapai 23.861 lebih. Yang paling tinggi adalah Nabire yaitu 10.000 lebih, ” terangnya .
Lanjut Freny, salah satu program Gubernur Papua Tengah, walaupun KPA ini secara nasional sudah ditutup, tetapi KPA masih aktif di Papua Tengah.
“Ini berarti ini salah satu kehebatan Pak Gubernur kita ya masih peduli dengan umatnya yaitu manusia yang ada di wilayah Papua Tengah.
“Kami ditugaskan untuk menjalankan tugas, bagaimana menangani virus ini ditekan, melalui berbagai kegiatan. Salah satunya adalah kami KPA diprogramkan untuk bersama-sama tokoh semua agama yang ada di wilayah Papua Tengah untuk menangani kasus ini.Bukan hanya di Islam saja tapi ada di Kristen, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu,” tuturnya.
“Kami sudah MOU dengan gereja Kemah Injil Kimi, dan hari ini kami MoU dengan salah satu organisasi islam yakni dewan Masjid.
“Kami tidak mungkin sendiri, kami tidak mampu menanggulangi HIV-Aids. Untuk kami mengajak berusaha bareng lewat MoU,” ujarnya.
Freny Anouw menilai selama ini tokoh-tokoh agama, para Da’i, Pendeta, hanya mengajak umat dalam hal rohani.
Oleh karena itu, ia mengharapkan agar mereka juga peduli akan kesehatan jasmani terkhusus masalah HIV-AIDS.
“Kami ingin dan meminta agar para penceramah semua,agama untuk menyampaikan dalam khutbah-khubahnya menyampaikan tentang dan bahayanya HIV-AIDS, cara agar tidak terjangkit virus mematikan ini,” terangnya.
“Mari kita,sama-sama jaga umat ini dari bahaya HIV-AIDS.Ini urusan nyawa.Kalau umat tidak ada, bagaimana mau khutbah,” katanya.
Kedua, Ketua KPA mengajak agar tempat-tempat usaha yang membahayakan, tempat yang disinyalir sebagai barter/pertukaran /penularan HIV-Aids sebaiknya tidak dibuka.
“Tempat haram, tempat yang dimungkinkan ssarana penularan/ barter/penyebaran virus,HIV tidak perlu dibuka, karena Tuhan akan marah,” pungkasnya. (ing elsa)