{"id":7484,"date":"2026-07-08T10:31:27","date_gmt":"2026-07-08T01:31:27","guid":{"rendered":"https:\/\/my.enagonews.com\/front\/?p=7484"},"modified":"2026-07-08T10:31:27","modified_gmt":"2026-07-08T01:31:27","slug":"dpr-ri-terima-aspirasi-dpr-papua-tengah-dan-masyarakat-mimika-tentang-dampak-tailing-pt-freeport-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/news.papuatengah.info\/cm\/dpr-ri-terima-aspirasi-dpr-papua-tengah-dan-masyarakat-mimika-tentang-dampak-tailing-pt-freeport-indonesia\/","title":{"rendered":"DPR RI Terima Aspirasi DPR Papua Tengah dan Masyarakat Mimika, tentang Dampak Tailing PT.Freeport Indonesia"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/news.papuatengah.info\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/1000215494-1024x771.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-7490\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><br>\u200e<br><strong>\u200eJAKARTA \u2013 enagoNews &#8211; <\/strong>Komisi IV DPR RI menggelar Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama DPR Provinsi Papua Tengah dan perwakilan masyarakat Kabupaten Mimika untuk mendengarkan secara langsung aspirasi terkait dugaan dampak pengelolaan tailing PT Freeport Indonesia terhadap lingkungan hidup, wilayah pesisir, alur sungai, serta kehidupan masyarakat adat dan nelayan di Kabupaten Mimika.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"476\" height=\"388\" src=\"https:\/\/news.papuatengah.info\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/1000215216.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-7491\" srcset=\"https:\/\/news.papuatengah.info\/cm\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/1000215216.jpg 476w, https:\/\/news.papuatengah.info\/cm\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/1000215216-300x245.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 476px) 100vw, 476px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><br>\u200eRapat dipimpin Ketua Komisi IV DPR RI, Robert Joppy Kardinal, yang menegaskan bahwa forum tersebut menjadi bagian penting dalam menghimpun informasi langsung dari masyarakat sebagai bahan pengawasan DPR RI.<br>\u200e&#8221;Melalui forum ini kami berharap memperoleh gambaran yang utuh mengenai kondisi di lapangan, dampak yang dirasakan masyarakat, serta berbagai persoalan yang perlu dipahami dan ditindaklanjuti bersama,&#8221; ujar Robert.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"664\" height=\"460\" src=\"https:\/\/news.papuatengah.info\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/1000215204.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-7488\" srcset=\"https:\/\/news.papuatengah.info\/cm\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/1000215204.jpg 664w, https:\/\/news.papuatengah.info\/cm\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/1000215204-300x208.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 664px) 100vw, 664px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>\u200eDPR Papua Tengah membawa Aspirasi Langsung dari Masyarakat<\/strong><br>\u200eWakil Ketua IV DPR Papua Tengah, John NR Gobai, hadir bersama sejumlah perwakilan masyarakat, di antaranya Sekretaris Lembaga Musyawarah Adat Suku Amungme Simon Magai, Ketua Lembaga Peduli Wilayah Mimika Timur Adolfina Kum, serta aktivis nelayan Mimika Natalia Yatanea, Simon Magal dari Lemasa Timika, Paulus Kemong dan Odizeus Beanal dari Intelektual asal Mimika.<br>\u200eJohn mengatakan kehadiran masyarakat dalam forum tersebut bertujuan agar DPR RI dapat mendengar langsung kondisi yang dialami warga di wilayah terdampak.<br>\u200eMenurutnya, berdasarkan laporan yang diterima DPR Papua Tengah, endapan tailing dari kawasan pegunungan hingga pesisir telah mencapai sekitar 25 kilometer dengan luas kurang lebih 23 ribu hektare.<br>\u200eIa mengingatkan, apabila tidak segera ditangani, timbunan tailing akan terus meningkat dan memperparah kerusakan lingkungan maupun akses transportasi masyarakat.<br>\u200e&#8221;Pendangkalan sungai membuat jalur transportasi masyarakat terganggu. Sungai bagi masyarakat pesisir bukan sekadar aliran air, tetapi menjadi sumber kehidupan,&#8221; katanya.<br>\u200eJohn juga menyampaikan bahwa pendangkalan telah menyebabkan berbagai kecelakaan transportasi laut. Masyarakat terpaksa menggunakan jalur laut yang lebih dalam dan berisiko karena jalur sungai tidak lagi dapat dilalui secara normal.<br>\u200eUsulkan Pengerukan Muara Hingga Wilayah Pertambangan Rakyat<br>\u200eDalam paparannya, John Gobai mengusulkan sejumlah langkah konkret kepada pemerintah pusat.<br>\u200eUsulan tersebut antara lain:<br>\u200ePengerukan muara dan jalur pelayaran, khususnya di kawasan Pulau Tiga agar kapal perintis kembali dapat melayani masyarakat.<br>\u200eRehabilitasi lingkungan secara masif pada wilayah terdampak tailing.<br>\u200ePenetapan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) di area tailing agar masyarakat adat memperoleh manfaat ekonomi.<br>\u200ePenyediaan air bersih bagi masyarakat pesisir.<br>\u200eIa juga mengakui kontribusi PT Freeport Indonesia terhadap pendapatan negara maupun program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Namun menurutnya, pertumbuhan ekonomi tidak boleh mengabaikan penderitaan masyarakat adat yang terdampak.<br>\u200e<br><strong>\u200eKerusakan Mangrove dan Hilangnya Mata Pencaharian Nelayan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"668\" height=\"448\" src=\"https:\/\/news.papuatengah.info\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/1000215212.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-7492\" srcset=\"https:\/\/news.papuatengah.info\/cm\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/1000215212.jpg 668w, https:\/\/news.papuatengah.info\/cm\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/1000215212-300x201.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 668px) 100vw, 668px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><br>\u200eKetua Lembaga Peduli Wilayah Mimika Timur, Adolfina Kum, menyampaikan bahwa sedikitnya 23 kampung mengalami dampak serius akibat pendangkalan jalur transportasi laut.<br>\u200eSelain terganggunya akses transportasi, masyarakat juga menghadapi berbagai persoalan lain seperti:<br>\u200eKerusakan hutan mangrove.<br>\u200eMenurunnya hasil tangkapan ikan.<br>\u200eKerusakan pulau-pulau keramat.<br>\u200eKematian sungai.<br>\u200eSulitnya memperoleh air bersih.<br>\u200eGangguan kesehatan masyarakat, termasuk penyakit kulit.<br>\u200ePerempuan nelayan kehilangan mata pencaharian hingga beralih menjadi pekerja kasar.<br>\u200eIa juga menyoroti Sungai Yamaima yang selama ini menjadi jalur utama masyarakat namun kini telah direklamasi sehingga warga harus menempuh jalur laut yang lebih berbahaya.<br>\u200eMenurut Adolfina, pemerintah memang telah membangun sejumlah fasilitas kesehatan, namun pelayanan belum maksimal karena keterbatasan tenaga kesehatan yang kompeten.<br>\u200e<br><strong>\u200eNelayan Keluhkan Penurunan Hasil Tangkapan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"564\" height=\"392\" src=\"https:\/\/news.papuatengah.info\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/1000215210.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-7493\" srcset=\"https:\/\/news.papuatengah.info\/cm\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/1000215210.jpg 564w, https:\/\/news.papuatengah.info\/cm\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/1000215210-300x209.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 564px) 100vw, 564px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><br>\u200ePerwakilan nelayan Mimika, Natalia Yatanea, mengatakan masyarakat pesisir telah lama menyampaikan tujuh tuntutan sejak tahun 2013 terkait dampak tailing.<br>\u200eNamun hingga kini sebagian besar tuntutan tersebut belum terealisasi secara optimal.<br>\u200eNatalia mengaku para mama nelayan kehilangan kawasan mangrove sebagai lokasi mencari ikan maupun kepiting.<br>\u200eIa juga menyebut kualitas hasil tangkapan ikan terus menurun sehingga sulit dipasarkan.<br>\u200eSelain itu, keberadaan kapal-kapal nelayan dari luar Papua dinilai semakin memperberat kondisi masyarakat lokal yang ruang tangkapnya semakin terbatas.<br>\u200e<br><strong>\u200eLembaga Adat Minta Negara Lindungi Masyarakat Adat<\/strong><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"508\" height=\"456\" src=\"https:\/\/news.papuatengah.info\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/1000215208.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-7494\" srcset=\"https:\/\/news.papuatengah.info\/cm\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/1000215208.jpg 508w, https:\/\/news.papuatengah.info\/cm\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/1000215208-300x269.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 508px) 100vw, 508px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><br>\u200eSekretaris Lembaga Adat Suku Amungme, Simon Magai, menyatakan persoalan yang dihadapi masyarakat adat di Mimika sangat kompleks.<br>\u200eMenurutnya, keberadaan perusahaan telah memberikan kontribusi besar bagi negara, namun masyarakat adat masih hidup dalam berbagai keterbatasan.<br>\u200eIa meminta DPR RI memberikan perhatian serius terhadap perlindungan masyarakat adat, termasuk mendorong pengesahan Rancangan Undang-Undang Masyarakat Adat yang masih masuk Program Legislasi Nasional (Prolegnas).<br>\u200e&#8221;Kami berharap DPR RI turun langsung ke lapangan agar melihat kondisi masyarakat adat yang sesungguhnya,&#8221; ujarnya.<br>\u200e<br><strong>\u200eTokoh Pemuda Soroti Risiko Keselamatan Warga<\/strong><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"624\" height=\"396\" src=\"https:\/\/news.papuatengah.info\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/1000215206.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-7496\" srcset=\"https:\/\/news.papuatengah.info\/cm\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/1000215206.jpg 624w, https:\/\/news.papuatengah.info\/cm\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/1000215206-300x190.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 624px) 100vw, 624px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><br>\u200eTokoh pemuda Mimika, Paulus Kemong, menuturkan persoalan pendangkalan sungai telah berlangsung cukup lama.<br>\u200eMenurutnya, masyarakat kini terpaksa menggunakan jalur laut dengan gelombang mencapai dua hingga tiga meter karena sungai tidak lagi dapat dilalui.<br>\u200eKondisi tersebut dinilai sangat membahayakan keselamatan masyarakat pesisir.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>\u200eTokoh Intelektual Odizeus Beanal, mengajukan Enam Solusi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"632\" height=\"400\" src=\"https:\/\/news.papuatengah.info\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/1000215205-1.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-7497\" srcset=\"https:\/\/news.papuatengah.info\/cm\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/1000215205-1.jpg 632w, https:\/\/news.papuatengah.info\/cm\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/1000215205-1-300x190.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 632px) 100vw, 632px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><br>\u200ePerwakilan tokoh intelektual Mimika mengusulkan enam langkah strategis untuk mengatasi persoalan sedimentasi dan pendangkalan, yakni:<br>\u200ePengerukan (maintenance dredging) secara berkala pada muara sungai.<br>\u200eSurvei batimetri rutin menggunakan teknologi hidrografi.<br>\u200ePembentukan tim terpadu yang melibatkan kementerian terkait, pemerintah daerah, akademisi, tokoh adat, dan PT Freeport Indonesia.<br>\u200ePenyediaan anggaran khusus untuk normalisasi alur sungai.<br>\u200ePelibatan masyarakat adat dan nelayan dalam kegiatan monitoring.<br>\u200ePemulihan lingkungan apabila kajian ilmiah membuktikan adanya kontribusi aktivitas industri terhadap sedimentasi.<br>\u200eMenurutnya, persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan lingkungan hidup, tetapi juga menyangkut ekonomi, pendidikan, kesehatan, serta keselamatan masyarakat pesisir.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"868\" height=\"372\" src=\"https:\/\/news.papuatengah.info\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/1000215221.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-7498\" srcset=\"https:\/\/news.papuatengah.info\/cm\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/1000215221.jpg 868w, https:\/\/news.papuatengah.info\/cm\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/1000215221-300x129.jpg 300w, https:\/\/news.papuatengah.info\/cm\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/1000215221-768x329.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 868px) 100vw, 868px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><br>\u200eKomisi IV DPR RI Catat Seluruh Aspirasi<br>\u200eMenutup rapat, Komisi IV DPR RI menyatakan menerima dan mencatat seluruh aspirasi yang disampaikan DPR Papua Tengah maupun masyarakat Kabupaten Mimika.<br>\u200eAspirasi tersebut meliputi dugaan dampak pengelolaan tailing PT Freeport Indonesia terhadap pendangkalan sungai dan pesisir, terganggunya akses transportasi masyarakat, penurunan kualitas lingkungan hidup, hingga dampak sosial dan ekonomi yang dirasakan masyarakat adat dan nelayan di Kabupaten Mimika.<br>\u200eMasukan tersebut akan menjadi bahan pembahasan Komisi IV DPR RI dalam menjalankan fungsi pengawasan serta tindak lanjut bersama kementerian dan lembaga Indonesia. (<strong>Red)<\/strong><br>\u200e<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u200e\u200eJAKARTA \u2013 enagoNews &#8211; Komisi IV DPR RI menggelar Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama DPR Provinsi Papua Tengah dan perwakilan masyarakat Kabupaten Mimika untuk mendengarkan secara langsung aspirasi terkait dugaan dampak pengelolaan tailing PT Freeport Indonesia terhadap lingkungan hidup, wilayah pesisir, alur sungai, serta kehidupan masyarakat adat dan nelayan di Kabupaten Mimika. \u200eRapat dipimpin [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":7499,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"pagelayer_contact_templates":[],"_pagelayer_content":"","footnotes":""},"categories":[560,396,397,398,565,399,561,569,401,402,403],"tags":[],"class_list":["post-7484","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-daerah","category-berita-nabire","category-berita-nasional","category-berita-papua-tengah","category-ekonomi","category-headlines","category-mimika","category-pemerintahan","category-pendidikan","category-politik","category-sosial-budaya"],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/news.papuatengah.info\/cm\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7484","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/news.papuatengah.info\/cm\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/news.papuatengah.info\/cm\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/news.papuatengah.info\/cm\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/news.papuatengah.info\/cm\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7484"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/news.papuatengah.info\/cm\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7484\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/news.papuatengah.info\/cm\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7499"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/news.papuatengah.info\/cm\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7484"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/news.papuatengah.info\/cm\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7484"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/news.papuatengah.info\/cm\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7484"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}