{"id":3539,"date":"2026-01-20T16:57:46","date_gmt":"2026-01-20T07:57:46","guid":{"rendered":"https:\/\/my.enagonews.com\/front\/?p=3539"},"modified":"2026-01-20T16:57:46","modified_gmt":"2026-01-20T07:57:46","slug":"enam-komoditas-unggulan-nabire-siap-dihidupkan-kembali-dukung-hilirisasi-nasional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/news.papuatengah.info\/cm\/enam-komoditas-unggulan-nabire-siap-dihidupkan-kembali-dukung-hilirisasi-nasional\/","title":{"rendered":"Enam Komoditas Unggulan Nabire Siap Dihidupkan Kembali Dukung Hilirisasi Nasional"},"content":{"rendered":"<?xml encoding=\"utf-8\" ?><figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"750\" height=\"444\" src=\"https:\/\/news.papuatengah.info\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/1000030611.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-3542\" srcset=\"https:\/\/news.papuatengah.info\/cm\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/1000030611.jpg 750w, https:\/\/news.papuatengah.info\/cm\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/1000030611-300x178.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 750px) 100vw, 750px\"><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><br><strong>Nabire, Papua Tengah&ndash; enagoBews <\/strong>&ndash; Kabupaten Nabire, Papua Tengah, memiliki sedikitnya enam komoditas unggulan perkebunan yang siap dihidupkan kembali sejalan dengan kebijakan hilirisasi nasional sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 192 Tahun 2024 dan Perpres Nomor 132 Tahun 2024 yang diteruskan oleh Kementerian Pertanian RI.<br>Kedua regulasi tersebut menekankan penguatan infrastruktur, kebijakan, dan pengembangan hilirisasi komoditas pertanian dan perkebunan guna meningkatkan nilai tambah, daya saing ekspor, serta kesejahteraan petani.<br>Dalam kebijakan nasional, pemerintah menetapkan tujuh komoditas prioritas hilirisasi bidang perkebunan, yakni kelapa, kakao, kopi, tebu, mete, lada dan pala, serta sawit. Dari tujuh komoditas tersebut, Kabupaten Nabire tercatat memiliki enam komoditas unggulan, yaitu kopi, kelapa, kakao, sagu, pinang, dan sawit.<br>Kepala Bidang Perkebunan Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Nabire, Ronald Wilson Manuaron, menjelaskan bahwa kondisi geografis Nabire yang strategis dengan struktur tanah yang subur menjadikan wilayah Teluk Cenderawasih sangat potensial untuk pengembangan sektor perkebunan.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"844\" height=\"550\" src=\"https:\/\/news.papuatengah.info\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/1000030612.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-3543\" srcset=\"https:\/\/news.papuatengah.info\/cm\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/1000030612.jpg 844w, https:\/\/news.papuatengah.info\/cm\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/1000030612-300x195.jpg 300w, https:\/\/news.papuatengah.info\/cm\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/1000030612-768x500.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 844px) 100vw, 844px\"><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><br>&ldquo;Sesuai Perpres Nomor 192 dan 132 tentang komoditas hilirisasi, Kabupaten Nabire memiliki enam komoditas unggulan, yaitu kopi, kelapa, sagu, kakao, pinang, dan sawit,&rdquo; ujar Ronald, Selasa (19\/1), di ruang kerjanya.<br>Menurutnya, komoditas kopi menjadi salah satu andalan utama. Papua memiliki dua jenis kopi sekaligus, yakni Robusta dan Arabika, dengan kualitas yang tidak kalah dibandingkan kopi dari daerah lain di Indonesia.<br>&ldquo;Kopi Robusta ditanam di dataran rendah dengan ketinggian di bawah 800 mdpl, sedangkan kopi Arabika ditanam di dataran tinggi di atas 800 mdpl dengan suhu yang lebih dingin, seperti di wilayah Siriwo, Dipa, Uwapa, dan Menao,&rdquo; jelasnya.<br>Pada tahun 2024, Kabupaten Nabire melalui Dinas Pertanian menerima bantuan bibit kopi dari Kementerian Pertanian RI yang bersumber dari APBN. Selanjutnya, pada tahun 2025, pengelolaan dan pembinaan tanaman kopi dilimpahkan kepada Dinas Peternakan dan Perkebunan.<br>&ldquo;Di tahun 2025 kami mulai memberikan pembinaan intensif kepada para petani kopi karena kopi merupakan tanaman perkebunan,&rdquo; kata Ronald.<br>Ia berharap pada tahun 2026 pemerintah pusat kembali memberikan bantuan serupa untuk memperkuat pembinaan petani, khususnya di sektor perkebunan. Terlebih saat ini, harga kopi nasional maupun internasional dinilai stabil sehingga mendorong kembali semangat petani di Nabire untuk mengembangkan kebun kopi.<br>Berdasarkan data pengembangan komoditas kopi tahun 2024, potensi lahan kopi di sejumlah distrik masih sangat luas.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"576\" src=\"https:\/\/news.papuatengah.info\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/1000030610-1024x576.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-3544\" srcset=\"https:\/\/news.papuatengah.info\/cm\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/1000030610-1024x576.jpg 1024w, https:\/\/news.papuatengah.info\/cm\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/1000030610-300x169.jpg 300w, https:\/\/news.papuatengah.info\/cm\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/1000030610-768x432.jpg 768w, https:\/\/news.papuatengah.info\/cm\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/1000030610-1536x864.jpg 1536w, https:\/\/news.papuatengah.info\/cm\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/1000030610.jpg 1600w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\"><\/figure>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Distrik Uwapa, jenis komoditi kopi, potensi lahan 300 ha, luas areal : TBM (tanaman belum menghasilkan) 15 ha, TM (tanaman menghasilkan) 5 ha, TTM \/ TR (tanaman tidak menghasilkan \/tanaman rusak) 5 ha, jumlah areal 25 ha. Jumlah lahan sisa 275 ha, produksi 5 ton, jumlah tani (KK) 52.<\/li>\n\n\n\n<li>Distrik Menou, jenis komoditi kopi, potensi lahan 2.373 ha, luas areal : TBM (tanaman belum menghasilkan) 25 ha, TM (tanaman menghasilkan) 3 ha, TTM \/ TR (tanaman tidak menghasilkan \/tanaman rusak) 3 ha, jumlah areal 31 ha. Jumlah lahan sisa 2. 342 ha, produksi 7 ton, jumlah tani (KK) 23.<\/li>\n\n\n\n<li>Distrik Dipa, jenis komoditi kopi, potensi lahan 1.773 ha, luas areal : TBM (tanaman belum menghasilkan) 20 ha, TM (tanaman menghasilkan) 3 ha, TTM \/ TR (tanaman tidak menghasilkan \/tanaman rusak) 4 ha, jumlah areal 27 ha. Jumlah lahan sisa 1.746 ha, produksi 5 ton, jumlah tani (KK) 18.<\/li>\n\n\n\n<li>Distrik Nabire Barat, jenis komoditi kopi, potensi lahan 2.625 ha, luas areal : TBM (tanaman belum menghasilkan) 5 ha, TM (tanaman menghasilkan) 15 ha, TTM \/ TR (tanaman tidak menghasilkan \/tanaman rusak) 5 ha, jumlah areal 41 ha. Jumlah lahan sisa 2.574 ha, produksi 2,5 ton, jumlah tani (KK) 39.<\/li>\n\n\n\n<li>Distrik Siriwo, jenis komoditi kopi, potensi lahan 6.325 ha, luas areal : TBM (tanaman belum menghasilkan) 100 ha, TM (tanaman menghasilkan) 15 ha, TTM \/ TR (tanaman tidak menghasilkan \/tanaman rusak) 23 ha, jumlah areal 135 ha. Jumlah lahan sisa 6.1870 ha, produksi 15 ton, jumlah tani (KK) 73.<br>Selain kopi, potensi perkebunan lainnya meliputi sagu di Kampung Makimi (Distrik Makimi) serta wilayah Kwatisore dan Yaur. Perkebunan kelapa tersebar di Distrik Moora, khususnya Kampung Mambor, Hariti, dan Moor, serta Distrik Makimi, Samabusa, Wanggar, dan Yaur.<br>Ronald mengakui bahwa permintaan pasar dari luar Pulau Papua terhadap komoditas perkebunan asal Nabire saat ini cukup tinggi, terutama untuk kelapa dalam bentuk kopra maupun kelapa bulat atau gelondongan.<br>&ldquo;Permintaan pasar sangat besar. Ini menjadi peluang sekaligus tantangan bagi daerah untuk mendorong hilirisasi agar nilai tambahnya bisa dinikmati langsung oleh petani dan masyarakat Nabire,&rdquo; pungkasnya. (Mus)<\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Nabire, Papua Tengah&ndash; enagoBews &ndash; Kabupaten Nabire, Papua Tengah, memiliki sedikitnya enam komoditas unggulan perkebunan yang siap dihidupkan kembali sejalan dengan kebijakan hilirisasi nasional sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 192 Tahun 2024 dan Perpres Nomor 132 Tahun 2024 yang diteruskan oleh Kementerian Pertanian RI.Kedua regulasi tersebut menekankan penguatan infrastruktur, kebijakan, dan pengembangan hilirisasi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":3544,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"pagelayer_contact_templates":[],"_pagelayer_content":"","wpai_generated_summary":"","wpai_meta_description":"","footnotes":""},"categories":[560,396,397,398,403,399],"tags":[],"class_list":["post-3539","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-daerah","category-berita-nabire","category-berita-nasional","category-berita-papua-tengah","category-berita-sosial","category-headlines"],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/news.papuatengah.info\/cm\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3539","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/news.papuatengah.info\/cm\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/news.papuatengah.info\/cm\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/news.papuatengah.info\/cm\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/news.papuatengah.info\/cm\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3539"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/news.papuatengah.info\/cm\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3539\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/news.papuatengah.info\/cm\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3544"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/news.papuatengah.info\/cm\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3539"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/news.papuatengah.info\/cm\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3539"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/news.papuatengah.info\/cm\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3539"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}